RSS

Arsip Tag: sabar

Orang yang Bersabar Akan Mendapatkan yang Terbaik

image

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud: Jalan keluar dan kelapangan hati itu ada dalam keyakinan dan keridhaan hati. Sedangkan keresahan dan kesedihan itu ada dalam keraguan dan ketidaksukaan.

Dia juga pernah mengatakan, “Orang yang banyak bersabar akan memperoleh yang terbaik.”

Aban bin Taghlab mengatakan, “Saya pernah mendengar seorang Arab Badui berkata: ‘Sikap yang paling baik dari seseorang akan muncul ketika ia ditimpa musibah, karena ia akan menjadikan sabar sebagai senjata menghadapi musibah tersebut dan akan memberinya inspirasi untuk selalu berharap agar musibah itu segera berakhir. Dan karena kesabarannya, ia seperti melihat jalan keluar dan pertolongan itu berada di depan matanya. Ini terjadi lantaran tawakal dan prasangka baiknya kepada Allah. Ketika orang telah sampai pada tingkatan ini, Allah pasti akan memberikan semua yang dibutuhkan, menghilangkan semua yang menyulitkan, dan mengabulkan semua permintaannya. Dan, dia selamat bersama agama, kehormatan, dan kepribadiannya.”

Al-Ashma’i meriwayatkan dari seorang Arab Badui yang mengatakan, “Takutlah terhadap keburukan yang muncul dari tempat yang baik, dan berharaplah kebaikan dari tempat yang buruk. Sebab, bisa jadi kehidupan itu ada karena adanya permintaan untuk mati, dan bisa jadi kematian itu terjadi karena adanya harapan untuk tetap hidup. Dan, tak jarang rasa nyaman itu datang dari rasa takut.”

Jika mata perhatian mengawasimu maka tidurlah,

sebab semua bencana aman semuanya.

Seorang yang bijaksana mengatakan, “Orang yang berakal akan menghibur dirinya dari hal-hal yang tak disukai karena menimpanya. Alasannya:

Pertama, ia bisa gembira karena masih ada sesuatu untuknya. Kedua, karena ia masih dapat mengharapkan jalan keluar dari apa yang menimpanya.

Sebaliknya, orang yang bodoh akan ketakutan menghadapi ujian yang menimpanya, karena:

Pertama, ia harus banyak merengek bantuan kepada orang lain. Kedua, ketakutannya akan sesuatu lebih besar dari yang akan menimpanya.

Sebagaimana disebutkan di atas, ujian itu adalah program latihan dari Allah yang ditetapkan kepada makhluk-Nya, dan latihan Allah akan membukakan hati, pendengaran, dan penglihatan.

Al-Hasan bin Sahl menggambarkan ujian itu sebagai berikut:

Dalam ujian itu ada penghapusan dosa, ada peringatan agar tidak lalai, ada tawaran untuk mendapatkan pahala dengan cara bersabar, ada saat untuk mengingat nikmat, ada harapan untuk mendapatkan ganjaran. Dalam pandangan Allah dan qadha’-Nya semuanya baik.

Orang yang lebih memilih mati hanya karena ia ingin berzikir, bertolak-belakang dengan contoh yang ada dalam ayat berikut.

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kami tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah: “Tolaklah kematian itu darimu, jika kamu orang-orang yang benar.”” (QS. Ali ‘Imran: 168)

(sumber: La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2016 in Renungan

 

Tag: ,

Raihanah

Ia tak tahu, siapa dirinya, dan darimana asal-usulnya, kecuali namanya, Raihanah. Bahwa suatu hari sekawanan perampok telah menyerbu kampungnya. Mereka menjarah dan merampas apa saja yang ada, lalu melakukan pembunuhan dengan kejam. Kampung itu mereka binasakan, dan kemudian pergi begitu saja.

Hanya Raihanah saja yang tinggal. Barangkali, karena ia masih kecil, dengan tubuhnya yang kurus dan tampak sakit-sakitan, maka sengaja ia tidak dibunuh. Ia dibiarkan hidup sebagai pelajaran bagi yang lain, begitu barangkali pikir mereka.

Hari berganti hari, Raihanah pun tumbuh dewasa. Ia kini telah menjadi seorang gadis, hidup sendirian di tengah padang belantara, dimana sepanjang mata memandang, hanya pasir yang tampak. Kawannya hanya seekor unta yang dengan setia memberinya susu setiap hari, dan beberapa ekor ayam, kambing dan domba yang tidak banyak jumlahnya. Ia sengaja menanam beberapa jenis sayuran dan memelihara rumput yang tumbuh di situ. Ia makan bersama ternak piarannya.

Dimalam hari, tatkala hawa dingin meremas tubuhnya, atau ketika panas matahari mendera punggungnya di siang hari, ia berlindung didalam gubuknya yang reot, yang sudah berlubang  disana-sini, sulit untuk diperbaiki. Namun demikian, Raihanah tak pernah mengeluh, ia ridho dan puas atas segala yang telah menimpa dirinya. Sedikit pun ia tidak marah kepada Tuhan, bahkan ia tetap memuji-Nya, layaknya seperti orang kaya yang punya apa saja.

Tak hanya sampai disitu. Pada suatu hari, berhembuslah angin yang sangat kencang. Tidak seperti biasanya, mendadak cuaca menjadi gelap, dan badai yang lebih dahsyat pun datang. Bukit-bukit pasir mulai bergeser dari tempatnya, pasir debu beterbangan di udara. Maka, dengan tergesa-gesa Raihanah mencari perlindungan. Didapatinya sebuah lubang yang cukup dalam dan luas, tidak jauh dari gubuknya. Maka, turunlah ia kesana. Sekilas hatinya merasa tenteram, meski ia berpikir bahwa tanda-tanda kiamat telah tiba.

Namun, ternyata tidak lama. Sebentar saja sesudah itu, angin reda kembali. Tak ada badai, tak ada topan. Semuanya tenang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Maka, keluarlah Raihanah dari tempat perlindungannya, dan ia terkejut melihat segalanya telah berubah. Panci yang tadi ia letakkan di atas tungku tampak terbalik. Dari sanalah kiranya kebakaran telah terjadi. Agaknya, api di tungku itu telah menjilat rerumputan di sekitarnya, kemudian oleh angin dibawanya membakar gubuknya. Kemudian, hewan ternak yang ada pun tak dapat menghindar dari kebinasaan. Api telah membakar apa saja yang ditemuinya tanpa terkendali. Tanaman-tanaman kecil yang ada disitu juga terbakar. Semuanya habis terbakar dan terkubur dalam onggokan pasir.

Raihanah memandang sekelilingnya, dan ia sadar, dirinya sudah tak punya apa-apa lagi. Betul-betul tak punya apa-apa, baik gubuk, ternak, bahkan sejumput rumput pun tidak. Apalagi pakaian dan makanan. Namun, ia masih sempat memandang ke langit. Matanya berputar-putar disana, dan dengan kerelaan penuh, bibirnya tampak tersenyum. Dengan hati yang lapang, ia berucap, “Tuhan, lakukanlah atas diriku sekehendak-Mu. Toh rizkiku ada pada-Mu jua.”

Sungguh menakjubkan sekali, karena tak lama kemudian, datanglah serombongan kafilah. Agaknya mereka berada tak jauh dari situ ketika bencana terjadi. Pertama-tama, kafilah itu berputar-putar di sekeliling daerah itu, menghindari bahaya yang mungkin bisa terjadi. Tetapi, sejauh itu mereka tidak melihat adanya manusia seorang pun, andaikata tidak ada nyala api yang belum habis membakar sisa harta Raihanah. Raihanah ada di sisi api itu dan kafilah pun menghampirinya.

Raihanah pun menceritakan kepada kafilah itu segala apa yang telah terjadi dan yang dilakukan oleh badai serta api dengan tak kenal belas kasihan, telah membakar gubuk dan ternaknya hingga menjadi arang.

Kafilah itu tidak segera pergi dari situ. Mereka kemudian beristirahat, makan dan minum bersama-sama Raihanah dan memuji kepada Allah atas keselamatan wanita itu. Juga berterimakasih atas keterangannya, bahkan kagum atas ketabahan yang dimiliki Raihanah.

Kemudian, mereka memutuskan takkan pergi dari situ sebelum membangun sebuah rumah. Biarlah rumah itu menjadi tempat persinggahan para musafir yang lewat.

Akhirnya, pemimpin kafilah itu meminang Raihanah dan memperistrinya. Hari demi hari, di sekeliling rumah mereka dibangun rumah-rumah baru. Tanah-tanah disekitarnya ditanami berbagai macam tanaman dan buah-buahan. Penduduk pun semakin banyak. Dan entah sudah berapa pemimpin dan raja yang menguasai daerah itu sampai saat ini. Orang sudah tak ingat lagi nama-nama mereka satu persatu. Tapi, nama Raihanah tetap bergema disana setiap saat. Orang datang dan pergi ke tempat itu, dan senantiasa mengucapkan kata Raihanah. Karena nama itu kini berubah menjadi nama tempat, dimana wanita tadi pernah hidup, yaitu Wahah Rainah, sebuah tempat peristirahatan yang nyaman di tengah padang pasir yang panas meradang, menjadi kerinduan setiap pengunjung yang menginginkan kesejukan. Dan siapapun yang pernah mendengar kisah tempat itu atau lewat disitu, ia pasti memuji dan berdoa untuk kesejahteraan pemilik nama aslinya, Raihanah, dan mengenangnya sebagai manusia teladan.

(Kisah-kisah teladan sepanjang sejarah Islam/Ir. Abdur Razaq Naufal)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2015 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: , ,

Jangan Bersedih, Karena Masih Ada Sebab-sebab yang Membuat Musibah Terasa Ringan

  1. Menunggu pahala dan ganjaran dari sisi Allah:

    “Sesungguhnya, hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”  (QS. Az-Zumar: 10)

  2. Melihat kepada orang lain yang mendapat musibah:
    Seandainya bukan karena banyak orang di sekitarku yang menangisi saudara-saudara mereka, pastilah aku akan bunuh diri.

    Menolehlah ke kanan dan ke kiri. Apakah yang anda lihat di sekeliling hanya orang-orang yang tertimpa musibah dan ujian semua? Seperti itulah. Di setiap hamparan lembah selalu saja ada Bani Sa’d.

  3. Musibah yang menimpa diri anda itu jauh lebih ringan dibandingkan dengan yang menimpa orang lain.
  4. Musibah itu menimpa hal-hal yang berkaitan dengan dunia saja, bukan agama.
  5. Melakukan ubudiyah dalam sebuah kepasrahan pada saat-saat tertekan terkadang lebih agung dibandingkan dengan yang dilakukan pada saat-saat bahagia.
  6. Tidak ada siasat untuk menghindarkan musibah:
    Tak usahlah berkilah untuk menghindarinya, karena berkilah untuk menghindar hanyalah menghentikan berkilah itu sendiri.

(Dikutip dari La Tahzan – Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Maret 2014 in Renungan

 

Tag: , , ,

Hari-hari Akan Terus Berputar

Diriwayatkan bahwa Ahmad bin Hanbal menjenguk Baqi’ ibn Mukhallad yang sedang terbaring sakit. Ahmad menyapa Baqi’, “Wahai Abu Abdur Rahman, bergembiralah dengan ganjaran yang Allah janjikan. Yakni, hari-hari sehat yang tidak akan ada sakit di dalamnya, dan hari-hari sakit yang tidak ada lagi kesehatan di dalamnya …”

Arti ungkapan itu. Di saat sehat tidak pernah terlintas dalam benak manusia tentang sakit. Hal ini menyebabkan keinginan manusia menjadi demikian kuat, cita-cita yang akan diraih makin banyak, ambisi yang hendak dicapai makin membesar, dan obsesinya kian tumbuh subur. Sebaliknya, sewaktu sakit keras tidak pernah terlintas dalam pikirannya tentang sehat. Hal ini membuat jiwa diliputi harapan yang tak berdaya, semangat yang terpenjara, dan putus asa yang menggejala.
Perkataan Imam Ahmad itu diambil dari firman Allah berikut ini,

“Dan, jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterimakasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”, sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal salih, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”  (QS. Hud: 9-11)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Allah Yang Maha Tinggi memberitahukan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada dalam diri mereka, kecuali mereka yang diberi rahmat, yakni hamba-hamba-Nya yang mukmin. Allah memberitahukan bahwa jika dia mendapatkan suatu kesulitan setelah adanya limpahan nikmat, maka dia akan segera menjadi putus asa dan patah semangat untuk mencapai kebaikan di masa depan. Pada saat yang sama ia mengingkari apa yang terjadi di masa lalu seakan-akan dia belum pernah melihat kebaikan dan seakan-akan tidak pernah mengharapkan jalan keluar.”

Demikian pula halnya, ketika mendapat limpahan nikmat setelah sebelumnya dililit bencana.

“Telah hilang bencana-bencana itu dariku.”  (QS. Hud: 10)

“Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.”  (QS. Hud: 10)

Ayat ini menjelaskan bahwa dia bangga dengan yang telah diraihnya, sombong dan selalu membanggakan diri kepada sesama.

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal salih, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”  (QS. Hud: 11)

(Dikutip dari La Tahzan – Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Januari 2014 in Renungan

 

Tag: , ,

Sabar Itu Indah

Bersabar diri merupakan ciri orang-orang yang menghadapi pelbagai kesulitan dengan lapang dada, kemauan yang keras, serta ketabahan yang besar. Karena itu, jika kita tidak bersabar, maka apa yang bisa kita lakukan?

Apakah anda memiliki solusi lain selain bersabar? Dan apakah anda mengetahui senjata lain yang dapat kita gunakan selain kesabaran?

Konon, seorang pembesar negeri ini memiliki ‘ladang gembalaan’ dan ‘lapangan’ yang selalu ditimpa musibah; setiap kali selesai dari satu kesulitan, kesulitan yang lain selalu datang mengunjunginya. Meski demikian, ternyata ia tetap berlindung di balik perisai kesabaran dan mengenakan tameng keyakinan kepada Allah.

Demikian itulah orang-orang mulia dan terhormat bertarung melawan setiap kesulitan dan menjatuhkan semua bencana itu terkapar di atas tanah.

Syahdan, ketika menjenguk Abu Bakar yang sedang terbaring sakit, para sahabat berkata kepadanya, “Bolehkah kami panggilkan seorang tabib untuk mengobatimu?”

“Seorang tabib telah memeriksaku!,” jawab Abu Bakar.

Para sahabat pun bertanya, “Lalu apa yang ia katakan?”

Ia berkata, “Sesungguhnya aku boleh melakukan apa saja yang aku mau.”

Bersabarlah karena Allah! Dan sebaiknya anda bersabar sebagaimana kesabaran orang yang yakin akan datangnya kemudahan, mengetahui tempat kembali yang baik, mengharap pahala, dan senang mengingkari kejahatan. Seberapa pun besar permasalahan yang anda hadapi, tetaplah bersabar. Karena kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama kesabaran. Jalan keluar datang bersama kesulitan. Dan, dalam setiap kesulitan itu ada kemudahan.

(Dikutip dari La Tahzan – Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Januari 2014 in Renungan

 

Tag: , ,