RSS

Arsip Tag: Renungan

Al-Qur’an, Kitab yang Penuh Berkah

Al-Qur’an, Kitab yang Penuh Berkah

Membaca Al-Qur’an dengan perenungan, pendalaman dan tadabbur merupakan satu dari sekian banyak sebab kebahagiaan dan kelapangan hati. Allah menyifati kitab-Nya ini sebagai petunjuk, cahaya, dan penawar atas semua yang ada di dalam dada. Di samping itu, Allah juga menyifatinya sebagai rahmat.

Perhatikan firman Allah di bawah ini:

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)</em

“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.”
(QS. Muhammad: 24)

“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
(QS. An-Nisa: 82)

“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)

Kalangan ahlul ilmi mengatakan, “Membacanya, mengamalkannya, menjadikannya sebagai sumber hukum, dan mengambil istinbath darinya sudah merupakan berkah.”

Seorang yang salih berkata, “Aku pernah merasakan kesuntukan (yang hanya diketahui oleh Allah) dan dilanda keresahan yang membatu. Maka, segera aku mengambil mushaf Al-Qur’an, dan membacanya. Tiba-tiba saja kesuntukan itu lenyap, dan Allah menggantikannya dengan kegembiraan dan keriangan.”

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.”
(QS. Al-Isra: 9)

“Dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan.”
(QS. Al-Ma’idah: 16)

“Dan, demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami.”
(QS. Asy-Syura: 52)

(La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 September 2016 in Uncategorized

 

Tag: , ,

Dua Kata Agung

Imam Ahmad pernah berkata, “Ada dua perkataan yang memberikan banyak manfaat kepadaku saat aku ada dalam ujian.”

Pertama, perkataan seorang yang dihukum karena minum minuman keras. Orang itu berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, kuatkanlah hatimu, engkau dicambuk karena engkau membela sunah, sedangkan aku dicambuk karena aku minum minuman keras. Tapi aku sabar (menerimanya).”

“Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula) sebagaimana kamu menderita, sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (QS. An-Nisâ’: 104)

“Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan sekali-kali jangan orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu.” (QS. Ar-Rûm: 60)

Kedua, perkataan seorang Arab Badui kepada Imam Ahmad –saat Imam Ahmad dijebloskan ke rumah tahanan dan kedua tangannya diborgol –, “Ahmad, bersabarlah, sebab jika engkau dibunuh di sini, maka engkau akan masuk surga dari sini pula.”

“Rabb menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal.” (QS. At-Taubah: 21)

(Disalin dari buku La-Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 1 Juli 2015 in Uncategorized

 

Tag: ,

Hati-hati Dengan Empat Hal

Ada empat hal yang membuat hidup ini menjadi sulit, perasaan menjadi tertekan, dan dada menjadi sesak. Pertama, menggerutu terhadap dan tidak menerima qadha’ dan qadar Allah.

Kedua, melakukan kemaksiatan dan tidak disertai taubat.

“… maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syûrã: 30)

Ketiga, iri kepada sesama, muncul perasaan senang untuk balas dendam kepada mereka, dan dengki atas karunia yang Allah berikan kepada mereka.

“Ataukah mereka benci kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepadanya.” (QS. An-Nisa: 54)

“Tidak akan merasa tenang orang-orang yang mendengki.” (Al-Hadits)

Keempat, berpaling dari mengingat Allah.

“Dan, barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thăhã: 124)

(Dikutip dari La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Juni 2015 in Renungan

 

Tag: ,

Allah Akan Menggantikan yang Hilang Dengan yang Lebih Baik

Ibn Rajab pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah yang sedang berada di Makkah. Dia kehabisan bekal dan kelaparan. Tubuhnya limbung. Ketika sedang berjalan di salah satu gang di kota Makkah dia mendapatkan sebuah kalung yang sangat mahal harganya. Diambilnya kalung itu dan dimasukkannya ke dalam saku, lalu pergi ke Masjidil Haram. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengumumkan bahwa dirinya telah kehilangan kalung. Orang yang kehilangan kalung itu menjelaskan bagaimana bentuk kalung yang hilang itu. Ternyata semua keterangan yang dia sampaikan mengacu kepada kalung yang ditemukan orang tersebut. “Saya berikan kalung itu kepadanya namun dengan syarat memberikan imbalan kepada saya. Kalung itu pun diambilnya, dan dia pergi begitu saja tanpa ucapan terimakasih, atau dengan memberikan satu dirham, sepatah kata, maupun dengan memberikan apa saja. Ya Allah, aku biarkan semua itu untuk-Mu, maka gantilah untukku sesuatu yang lebih baik darinya, ” kata orang yang menemukan kalung itu.

Kemudian dia pergi ke laut, dan menumpang sebuah perahu. Setelah di laut, tiba-tiba angin bertiup kencang sekali, dan perahu yang ditumpanginya itu pun karam. Akhirnya dia mengapung-apung di atas air dengan sebatang kayu yang dimainkan angin ke kiri dan ke kanan, hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau. Ia kemudian turun ke daratan. Di pulau itu dia mendapatkan sebuah masjid dan orang-orang yang sedang melakukan shalat, dia pun kemudian ikut shalat bersama mereka.

Di masjid itu ia menemukan lembaran-lembaran kertas yang setelah dibacanya ternyata ayat-ayat Al-Qur’an. Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, “Apakah anda sedang membaca Al-Qur’an?”

” Ya,” jawab orang itu. Kemudian penduduk pulau itu berkata, “Ajarilah anak-anak kami Al-Qur’an.” Dia pun setuju untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dengan dibayar.

Kemudian dia menuliskan tulisan Arab, dan orang itu pun bertanya lagi, “Apakah anda bisa mengajari anak-anak kami tulis-menulis?”

Jawabnya, “Ya.” Maka dia pun mengajari anak-anak mereka dengan menerima bayaran.

Orang-orang di pulau itu kemudian bercerita bahwa di tempat itu ada seorang perempuan yatim, anak dari seseorang yang sangat baik. Kini orang tuanya meninggal dunia. “Apakah anda mau menikahinya?” tanya orang-orang Itu kemudian.

Dia menjawab, “Tidak apa-apa.” Dan, dia pun akhirnya menikah dengan perempuan yatim tersebut. Ketika masuk ke kamarnya, di hari pertama, dia melihat kalung yang pernah dia temukan itu melingkar di leher istrinya itu.

Maka ia pun bertanya, “Bagaimana kisah tentang kalung ini?” Si istri itu pun kemudian bercerita. Dalam cerita itu disebutkan bahwa ayahnya suatu waktu pernah menghilangkannya di Makkah. Kata si ayah kepadanya, kalung ini ditemukan oleh seorang laki-laki yang kemudian diserahkan begitu saja kepadanya. Sepulang dari Makkah, si ayah selalu berdoa dalam sujudnya semoga Allah mengaruniakan suami buat anak perempuannya seperti laki-laki yang menemukan kalung itu. Di akhir ceritanya, si suami menyergah, “Sayalah laki-laki itu.”

Sekarang, kalung itu berada di sisi laki-laki itu dengan status halal. Dia telah meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah pun menggantikannya dengan yang lebih baik. “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik.”(Al-Hadits)

(Dikutip dari La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2015 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,

Tetaplah Ridha Walaupun Harus Menggenggam Bara

Seseorang dari Bani ‘Abs keluar mencari untanya yang hilang. Tiga hari lamanya sampai tidak pulang. Ia sudah berusaha mencari kemana-mana. Padahal, dia seorang yang kaya dan memiliki segalanya. Harta dan keluarganya berada di sebuah rumah yang mewah di dekat aliran air di daerah Bani ‘Abs. Mereka hidup enak, aman, dan tenang. Tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa sebuah bencana bisa saja menimpa mereka, musibah bisa saja mengancam mereka.

Wahai orang yang tidur nyenyak di awal malam,
bencana bisa saja mengancam di dini pagi.

Semua keluarganya, baik yang besar maupun yang kecil tertidur. Mereka berada di tengah-tengah harta mereka, sementara bapak mereka sedang tidak ada, mencari barangnya yang hilang. Pada saat itulah Allah mengirimkan air bah yang menerjang bukit-bukit seperti debu, tanpa ampun. Dan itu terjadi di akhir malam. Semuanya hanyut, rumah-rumah mereka tercerabut, harta mereka ludes, dan semua anggota keluarganya ikut terbawa air. Kini semuanya hanya tinggal bekas, seakan-akan mereka tidak pernah ada. Yang ada hanyalah omongan dari mulut ke mulut.

Setelah tiga hari mencari unta, si bapak ini kembali ke lembah tempat tinggalnya. Tapi dia tidak merasakan kehadiran seseorang, tidak terdengar suara, tidak ada kehidupan, tidak ada orang bicara, dan tidak ada keceriaan. Tempat itu datar sama sekali. Ya Allah, sungguh sebuah bencana yang sangat berat, tak ada lagi istri, tak ada lagi anak-anak, tak ada lagi unta, tak ada domba, tak ada sapi, tak ada dirham, tak ada dinar, dan tak ada pakaian. Tak ada apa-apa. Sungguh sebuah musibah yang menghancurkan.

Satu-satunya unta yang masih ada lepas begitu saja. Dikejarnya unta itu. Ketika sudah hampir tertangkap, unta tersebut menendang wajah orang itu, dan membuatnya buta. Orang itu pun berteriak-teriak dengan harapan ada orang yang anda membawanya ke tempat yang bisa dia jadikan untuk berteduh. Berselang beberapa hari kemudian, suara itu terdengar oleh seorang Badui. Dihampirinya orang itu, dan dituntunnya. Kemudian si bapak buta ini dibawa menghadap al-Walid ibn Abdul Malik, khalifah di Damaskus. Orang itu pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Kata al-Walid, “Lalu bagaimana sikapmu?” Jawab si bapak, “Saya ridha kepada Allah.”

Sebuah kalimat yang sangat agung, yang diucapkan oleh seorang muslim yang di dalam hatinya terdapat tauhid. Ia menjadi bukti bagi orang-orang yang bertanya, nasehat bagi orang-orang yang mencari nasehat, dan pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Kepada orang yang tidak ridha dan tidak menerima keputusan Zat yang menentukan, maka terserah kepada mereka. Bila mereka merasa mampu, maka carilah lorong ke dalam tanah, atau tangga menuju ke langit. Jika mau.

{{Maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya?}}  (QS. Al-Hajj: 15)

(Dikutip dari La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Juni 2015 in Renungan

 

Tag: , , ,

Tikus yang Tak Tahu Bersyukur

Seekor tikus berlari tunggang langgang seperti kilat dengan lompatan panjang menyeberangi jalan becek, kemudian dengan sigap ia menyeruduk ke dalam got sempit yang bau. Seekor kucing hitam yang mengejarnya dengan penuh nafsu terpaksa berhenti di mulut got dengan wajah kesal. Tubuhnya yang besar tak bisa masuk guna menangkap tikus kurus itu.
“Terimakasih Tuhan!”, ujar tikus sembari bersujud karena nyawanya selamat dari sang kucing, musuh bebuyutannya yang sudah puluhan kali mengejarnya, namun ia selalu lolos. Saat itu sang tikus dengan khusyu’ berdoa, “Ya Tuhan.! Aku sudah bosan dikejar kucing. Izinkan aku untuk bisa menjadi kucing, sehingga derajat hidupku lebih tinggi. Engkau Maha Kuasa!”

Keesokan paginya saat bangun tidur, sang tikus gembira sekali, karena doanya dikabulkan Tuhan. Kini ia sudah menjadi kucing hitam, persis seperti kucing yang selalu mengejarnya. Dengan langkah gontai sang kucing berjalan sembari melihat ke kanan dan kiri, kalau-kalau ada tikus yang dapat disantapnya. Tiba-tiba dari arah sebelah timur seekor anjing herder bertubuh besar berlari ke arahnya. “Ada apa? Kenapa anjing itu mengejarku?” pikir si kucing. Benar, anjing herder berwarna kuning dengan bintik-bintik hitam itu mengejar si kucing. Tanpa pikir panjang, si kucing pun berlari terbirit-birit. Dengus lapar sang anjing yang tengah mengejarnya hanya berjarak sekitar satu meter di belakangnya, terdengar dengan jelas. Si kucing berlari sekuat tenaganya. Sebagai kucing jelas tak mungkin ia lari ke dalam got sempit dan bau seperti tikus. Dengan cepat sembari berlari si kucing memanjat pohon rambutan di dekatnya. “Alhamdulillah. Terimakasih Tuhan, aku selamat dari kejaran anjing,” ujar kucing dengan nafas terengah-engah. Anjing herder itu berjam-jam menunggu si kucing di bawah pohon rambutan itu. Si kucing marah dan jengkel. Untung anjing itu tak bisa memanjat!

Pada malam harinya, si kucing pun berdoa. “Ternyata jadi kucing lebih rumit. Ya Allah! Engkau Maha Kuasa, izinkanlah hamba menjadi anjing!”. Saat ayam berkokok esok paginya, si kucing terbangun dan ia gembira karena saat tidur, Tuhan mengabulkan doanya. Kini ia sudah menjadi seekor anjing herder yang besar dan gagah. Dengan bangga sebagai anjing herder, ia berjalan mengelilingi kota kecil itu. Perutnya terasa lapar dan butuh makanan dalam jumlah besar, karena perutnya kini jauh lebih besar ketimbang tikus dan kucing. Sang anjing pun mencari tempat sampah untuk mendapatkan sisa makanan. Saat baru mengorek-ngorek tempat sampah, tiba-tiba ia dilempari seorang pemulung dengan batu. Dug.. Dug.. Duug!!! “Sakit sekali!” keluh sang anjing. Karena tempat sampah itu merupakan langganan si pemulung sejak lama.

“Anjing sialan! Pergi kau! Jangan kau rebut rizkiku! Aparat kota sudah mengusirku. Kini kau anjing dekil juga ingin menggusurku?”. Sembari menahan rasa sakit yang tak terhingga, si anjing malang itu lari berjingkrak kesakitan. Di ujung jalan, sejumlah pemuda yang sedang bermain bola berteriak. “Itu anjing yang kemarin mengencingi bola kita. Ayo lempar anjing itu!”. Sang anjing pun berlari sekencang-kencangnya dengan perut kosong. Sang anjing berlari dan terus berlari dengan nafas hampir putus. Akhirnya, ia sampai di kawasan tanah kosong di pinggir kota. Kemudian sang anjing beristirahat sembari bersembunyi di belakang rumah kosong dengan perut lapar dan sangat letih. Saat itu sang anjing berdoa lagi. “Ya Tuhan! Ternyata jadi anjing lebih sulit lagi. Hamba ingin menjadikannya manusia. Kabulkanlah doa hamba!” Kemudian sang anjing pun tertidur.

Saat tidur sang anjing bermimpi didatangi seorang laki-laki berjubah putih dan ia berkata: “Hai anjing! Kamu adalah contoh makhluk yang tak pandai bersyukur. Kau makhluk yang tak pernah puas dan selalu iri kepada makhluk lain. Mulai saat ini doamu tak bisa dikabulkan lagi. Kamu Kami kembalikan lagi menjadi tikus!”. Saat fajar menyingsing, sang anjing terbangun, ia terkejut karena telah kembali menjadi tikus. Mulai saat itu si tikus bangga sebagai seekor tikus dan ternyata baginya lebih indah menjadi tikus. Sang tikus pun berkata kepada dirinya, “Kalaulah aku tak mendapat karunia dan rahmat dari Allah, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi”.

Renungan :”Jika kamu bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Jika kamu tak bersyukur, tunggu saja azab Tuhan yang pedih!”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Juni 2015 in Renungan

 

Tag: ,

Siapa Menanam, Akan Mengetam

Sejumlah kalangan bijak mengatakan bahwa orang yang selalu mencari-cari aib orang lain itu bagaikan lalat yang hanya akan hinggap pada luka. Dan orang mulai terjangkiti kata “akan tetapi”, sehingga setiap kali mengatakan tentang seseorang selalu saja : “Ada kebaikan dalam dirinya, akan tetapi…” Perhatikan apa yang dikatakan setelah “akan tetapi” itu, yang pasti kritik, nada menyalahkan, dan pernyataan yang menjatuhkan.

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS. Al-Humazah: 1)

“Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.” (QS. Al-Qalam: 11)

“Dan, janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain.” (QS. Al-Hujurât: 12)

Kebahagiaanku dan kebahagiaanmu itu terletak dalam bagaimana membahagiakan orang lain, bagaimana menciptakan kegembiraan pada diri mereka, dan bagaimana menempatkan potensi, kemampuan, dan kebaikan mereka. Sejauh pengamatan saya, semakin kita menghormati, memperhatikan dan mengakui kebaikan orang lain, maka akan semakin besar pula penghormatan, perhatian, dan pengakuan mereka terhadap diri kita.

Sebaliknya, semakin kita tak acuh dan berpaling dari mereka maka semakin pula mereka tak acuh dan berpaling dari kita.

“Sebagai pembalasan yang setimpal.” (QS. An-Nabâ’: 26)

Apakah bisa dikatakan orang cerdas, orang yang ingin dihormati orang lain sementara dia sendiri menginginkan orang lain terpuruk? Tentu saja sangat tidak adil.

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang.” (QS. Al-Muthaffifin: 1)

(Dari: La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 20 Juni 2015 in Renungan

 

Tag: ,