RSS

Arsip Kategori: Renungan

Berlindunglah kepada Kesabaran niscaya akan Bahagia

Berlindunglah kepada Kesabaran niscaya akan Bahagia

Dari Zaid ibn Tsabit, dia berkata, Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan dunia sebagai keinginannya, maka Allah akan menceraiberaikan urusannya (sehingga dia menjadi bingung dibuatnya), Allah akan menjadikan kefakirannya di depan kedua matanya. Dan, tidak datang kepadanya dunia, kecuali yang telah dituliskan untuknya. Dan, barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya (sehingga mudah-mudah saja semua itu dijalaninya). Allah akan memberikan kekayaan di dalam hatinya, dan akan datang kepadanya dunia karena dunia itu rendah sekali’.”

Dari Abdullah ibn Mas’ud, dia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah saw mengatakan, ‘Barangsiapa menjadikan semua keinginannya itu menjadi satu, yakni keinginan terhadap akhirat, maka Allah akan mencukupkan keinginan dunianya. Dan, barangsiapa yang banyak sekali keinginannya terhadap permasalahan dunia, maka Allah tidak akan mempedulikannya di lembah mana dia hancur’.”

Ikutilah orang-orang yang gembira
dan berlindunglah kepada kesabaran niscaya akan bahagia.
Yang menggelapkan hari-hari dihujat tanpa alasan yang jelas
Kau baik kepada kami meski tak pernah dibalas terima kasih
dan kau cegah kami dari dosa tapi mereka tak pernah merasa berdosa.
Dalam pembuatannya, kebijaksanaan Allah adalah
sebuah kemenangan dan keteguhan hati.
Dari sempit ke luar, dan dari kesedihan ke arah kegembiraan.

(sumber: La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Mei 2017 in Renungan

 

Tag: ,

Berhati-hatilah

image

Orang yang teguh hatinya dan menjalani kehidupan ini dengan pasti tidak akan bertindak sembrono. Ia akan selalu mengambil sikap melihat dan menimbang sebelum berbuat, agar tidak menyesal di kemudian hari. Jika hasil yang dicapai sesuai dengan keinginannya, maka ia memuji Allah dan berterimakasih kepada-Nya karena ia bisa mengeluarkan keputusan yang tepat. Dan, jika yang terjadi ternyata tidak seperti yang dikehendaki maka dia akan mengatakan, “Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan,” dengan hati yang menerima dan tidak bersedih.

(La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juni 2016 in Renungan

 

Tag: ,

Orang yang Bersabar Akan Mendapatkan yang Terbaik

image

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud: Jalan keluar dan kelapangan hati itu ada dalam keyakinan dan keridhaan hati. Sedangkan keresahan dan kesedihan itu ada dalam keraguan dan ketidaksukaan.

Dia juga pernah mengatakan, “Orang yang banyak bersabar akan memperoleh yang terbaik.”

Aban bin Taghlab mengatakan, “Saya pernah mendengar seorang Arab Badui berkata: ‘Sikap yang paling baik dari seseorang akan muncul ketika ia ditimpa musibah, karena ia akan menjadikan sabar sebagai senjata menghadapi musibah tersebut dan akan memberinya inspirasi untuk selalu berharap agar musibah itu segera berakhir. Dan karena kesabarannya, ia seperti melihat jalan keluar dan pertolongan itu berada di depan matanya. Ini terjadi lantaran tawakal dan prasangka baiknya kepada Allah. Ketika orang telah sampai pada tingkatan ini, Allah pasti akan memberikan semua yang dibutuhkan, menghilangkan semua yang menyulitkan, dan mengabulkan semua permintaannya. Dan, dia selamat bersama agama, kehormatan, dan kepribadiannya.”

Al-Ashma’i meriwayatkan dari seorang Arab Badui yang mengatakan, “Takutlah terhadap keburukan yang muncul dari tempat yang baik, dan berharaplah kebaikan dari tempat yang buruk. Sebab, bisa jadi kehidupan itu ada karena adanya permintaan untuk mati, dan bisa jadi kematian itu terjadi karena adanya harapan untuk tetap hidup. Dan, tak jarang rasa nyaman itu datang dari rasa takut.”

Jika mata perhatian mengawasimu maka tidurlah,

sebab semua bencana aman semuanya.

Seorang yang bijaksana mengatakan, “Orang yang berakal akan menghibur dirinya dari hal-hal yang tak disukai karena menimpanya. Alasannya:

Pertama, ia bisa gembira karena masih ada sesuatu untuknya. Kedua, karena ia masih dapat mengharapkan jalan keluar dari apa yang menimpanya.

Sebaliknya, orang yang bodoh akan ketakutan menghadapi ujian yang menimpanya, karena:

Pertama, ia harus banyak merengek bantuan kepada orang lain. Kedua, ketakutannya akan sesuatu lebih besar dari yang akan menimpanya.

Sebagaimana disebutkan di atas, ujian itu adalah program latihan dari Allah yang ditetapkan kepada makhluk-Nya, dan latihan Allah akan membukakan hati, pendengaran, dan penglihatan.

Al-Hasan bin Sahl menggambarkan ujian itu sebagai berikut:

Dalam ujian itu ada penghapusan dosa, ada peringatan agar tidak lalai, ada tawaran untuk mendapatkan pahala dengan cara bersabar, ada saat untuk mengingat nikmat, ada harapan untuk mendapatkan ganjaran. Dalam pandangan Allah dan qadha’-Nya semuanya baik.

Orang yang lebih memilih mati hanya karena ia ingin berzikir, bertolak-belakang dengan contoh yang ada dalam ayat berikut.

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kami tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah: “Tolaklah kematian itu darimu, jika kamu orang-orang yang benar.”” (QS. Ali ‘Imran: 168)

(sumber: La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2016 in Renungan

 

Tag: ,

Mari Kita Menuju Shalat

image

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ”  (QS. Al-Baqarah: 153)

Jika Rasulullah ditimpa sebuah ketakutan, maka dia akan segera melakukan shalat. Pernah dia berkata kepada Bilal, ” Wahai Bilal, tentramkan (hati) kita dengan shalat!” Pada kali yang lain beliau bersabda, “Ketenanganku ada pada shalat.”

Jika hati terasa menyesak, masalah yang dihadapi terasa sangat rumit, dan tipu muslihat sangat banyak, maka bersegeralah datang ke tempat shalat, dan shalatlah.

Jika hari-hari menjadi gelap gulita, malam-malam mencekam, dan kawan-kawan berpaling, maka lakukanlah shalat.

Dalam berbagai urusan yang sangat penting Rasulullah selalu melapangkan hatinya dengan melakukan shalat. Misalnya, pada saat perang Badar, Ahzab (Khandak), dan kesempatan-kesempatan yang lain. Diriwayatkan dari Al-Hafizh ibn Hajar penulis Fathul Bari, bahwa suatu hari dia pergi ke sebuah benteng di Mesir. Di tengah jalan, dia dikepung oleh segerombolan pencuri. Seketika itu juga ia berdiri untuk melakukan shalat. Dan Allah pun memberikan jalan keluar kepadanya.

Ibn ‘Asakir dan Ibn Qayyim al-Jauziyah bercerita bahwa seorang laki-laki shalih pernah bertemu dengan seorang perampok di salah satu jalan di Syam. Perampok itu telah bersiap-siap untuk membunuhnya. Laki-laki tersebut meminta waktu kepada si perampok untuk melakukan shalat dua rakaat. Maka, berdirilah ia dan mulai melakukan shalat. Di saat itu ia teringat firman Allah yang berbunyi : “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan bila dia berdoa kepada-Nya.” Dia membacanya tiga kali. Maka, turunlah malaikat dari langit membawa pedang, dan dengan pedang itu ia membunuh perampok tersebut. Malaikat itu berkata, “Aku adalah utusan Zat Yang Memperkenankan doa orang yang dalam kesulitan.”

Pada ayat-ayat yang lain Allah berfirman,

“Dan, perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Qs. Thaha: 132)

“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

“Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa’: 103)

(Dikutip dari: La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Mei 2016 in Renungan

 

Tag: ,

Beban Berat Sebagai Konsekuensi Status

Di antara tuntutan kehidupan dunia yang melelahkan adalah kedudukan.
Ibnul Wardi mengatakan,

Beban berat karena kedudukan telah melemahkan kesabaranku.
Wahai deritaku, semuanya karena interaksi dengan semua kerendahan.

Maksud bait syair ini adalah bahwa konsekuensi dari kedudukan itu sangat mahal, dan dapat menurunkan kesehatan. Hanya sedikit orang yang mampu membayar ketentuan pajak sehari-harinya; mulai dari keringatnya, darahnya, nama baiknya, waktu istirahatnya, kehormatannya, sampai harga dirinya.

Sabda Rasulullah, “Janganlah engkau menuntut kekuasaan.” Sabdanya yang lain berbunyi,  “Alangkah bahagianya orang yang menyusui, dan alangkah sengsaranya orang yang menyusu.”

Allah Swt. berfirman,

“Telah hilang kekuasaanku dariku.” (QS. Al-Hâqqah: 29)

Seorang penyair berkata,

Biarkanlah dunia datang menemuimu dengan sendirinya,
bukankah ujung dunia adalah kebinasaan.

Bayangkan bahwa dunia ini datang dengan segala sesuatunya. Selanjutnya, akan kemana perginya? Pasti, menuju ujung kefanaan:

“Dan, tetap kekal Wajah Rabb-mu yang mempunyai kebenaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman: 27)

Seorang yang shalih pernah berkata kepada anaknya, “Janganlah kamu menjadi kepala (pemimpin), sebab kepala banyak menahan rasa nyeri.”

Maksud dari ucapan seorang yang shalih itu ialah bahwa jangan terlalu senang untuk menonjolkan diri dan ingin menjadi pemimpin. Sebab kritikan, umpatan, pelecehan, dan serangan itu sasarannya tak lain hanyalah orang-orang yang berada di barisan paling depan.

Separuh manusia adalah musuh bagi orang yang memegang kendali kekuasaan jika dia adil.

(Sumber: La Tahzan; Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Oktober 2015 in Renungan

 

Tag: ,

Hati-hati Dengan Empat Hal

Ada empat hal yang membuat hidup ini menjadi sulit, perasaan menjadi tertekan, dan dada menjadi sesak. Pertama, menggerutu terhadap dan tidak menerima qadha’ dan qadar Allah.

Kedua, melakukan kemaksiatan dan tidak disertai taubat.

“… maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” (QS. Asy-Syûrã: 30)

Ketiga, iri kepada sesama, muncul perasaan senang untuk balas dendam kepada mereka, dan dengki atas karunia yang Allah berikan kepada mereka.

“Ataukah mereka benci kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang Allah berikan kepadanya.” (QS. An-Nisa: 54)

“Tidak akan merasa tenang orang-orang yang mendengki.” (Al-Hadits)

Keempat, berpaling dari mengingat Allah.

“Dan, barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sempit.” (QS. Thăhã: 124)

(Dikutip dari La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Juni 2015 in Renungan

 

Tag: ,

Allah Akan Menggantikan yang Hilang Dengan yang Lebih Baik

Ibn Rajab pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah yang sedang berada di Makkah. Dia kehabisan bekal dan kelaparan. Tubuhnya limbung. Ketika sedang berjalan di salah satu gang di kota Makkah dia mendapatkan sebuah kalung yang sangat mahal harganya. Diambilnya kalung itu dan dimasukkannya ke dalam saku, lalu pergi ke Masjidil Haram. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengumumkan bahwa dirinya telah kehilangan kalung. Orang yang kehilangan kalung itu menjelaskan bagaimana bentuk kalung yang hilang itu. Ternyata semua keterangan yang dia sampaikan mengacu kepada kalung yang ditemukan orang tersebut. “Saya berikan kalung itu kepadanya namun dengan syarat memberikan imbalan kepada saya. Kalung itu pun diambilnya, dan dia pergi begitu saja tanpa ucapan terimakasih, atau dengan memberikan satu dirham, sepatah kata, maupun dengan memberikan apa saja. Ya Allah, aku biarkan semua itu untuk-Mu, maka gantilah untukku sesuatu yang lebih baik darinya, ” kata orang yang menemukan kalung itu.

Kemudian dia pergi ke laut, dan menumpang sebuah perahu. Setelah di laut, tiba-tiba angin bertiup kencang sekali, dan perahu yang ditumpanginya itu pun karam. Akhirnya dia mengapung-apung di atas air dengan sebatang kayu yang dimainkan angin ke kiri dan ke kanan, hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau. Ia kemudian turun ke daratan. Di pulau itu dia mendapatkan sebuah masjid dan orang-orang yang sedang melakukan shalat, dia pun kemudian ikut shalat bersama mereka.

Di masjid itu ia menemukan lembaran-lembaran kertas yang setelah dibacanya ternyata ayat-ayat Al-Qur’an. Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, “Apakah anda sedang membaca Al-Qur’an?”

” Ya,” jawab orang itu. Kemudian penduduk pulau itu berkata, “Ajarilah anak-anak kami Al-Qur’an.” Dia pun setuju untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dengan dibayar.

Kemudian dia menuliskan tulisan Arab, dan orang itu pun bertanya lagi, “Apakah anda bisa mengajari anak-anak kami tulis-menulis?”

Jawabnya, “Ya.” Maka dia pun mengajari anak-anak mereka dengan menerima bayaran.

Orang-orang di pulau itu kemudian bercerita bahwa di tempat itu ada seorang perempuan yatim, anak dari seseorang yang sangat baik. Kini orang tuanya meninggal dunia. “Apakah anda mau menikahinya?” tanya orang-orang Itu kemudian.

Dia menjawab, “Tidak apa-apa.” Dan, dia pun akhirnya menikah dengan perempuan yatim tersebut. Ketika masuk ke kamarnya, di hari pertama, dia melihat kalung yang pernah dia temukan itu melingkar di leher istrinya itu.

Maka ia pun bertanya, “Bagaimana kisah tentang kalung ini?” Si istri itu pun kemudian bercerita. Dalam cerita itu disebutkan bahwa ayahnya suatu waktu pernah menghilangkannya di Makkah. Kata si ayah kepadanya, kalung ini ditemukan oleh seorang laki-laki yang kemudian diserahkan begitu saja kepadanya. Sepulang dari Makkah, si ayah selalu berdoa dalam sujudnya semoga Allah mengaruniakan suami buat anak perempuannya seperti laki-laki yang menemukan kalung itu. Di akhir ceritanya, si suami menyergah, “Sayalah laki-laki itu.”

Sekarang, kalung itu berada di sisi laki-laki itu dengan status halal. Dia telah meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah pun menggantikannya dengan yang lebih baik. “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik.”(Al-Hadits)

(Dikutip dari La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2015 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,