RSS

Arsip Kategori: Kisah-kisah Teladan

Allah Akan Menggantikan yang Hilang Dengan yang Lebih Baik

Ibn Rajab pernah bercerita tentang seorang ahli ibadah yang sedang berada di Makkah. Dia kehabisan bekal dan kelaparan. Tubuhnya limbung. Ketika sedang berjalan di salah satu gang di kota Makkah dia mendapatkan sebuah kalung yang sangat mahal harganya. Diambilnya kalung itu dan dimasukkannya ke dalam saku, lalu pergi ke Masjidil Haram. Tiba-tiba ada seorang lelaki yang mengumumkan bahwa dirinya telah kehilangan kalung. Orang yang kehilangan kalung itu menjelaskan bagaimana bentuk kalung yang hilang itu. Ternyata semua keterangan yang dia sampaikan mengacu kepada kalung yang ditemukan orang tersebut. “Saya berikan kalung itu kepadanya namun dengan syarat memberikan imbalan kepada saya. Kalung itu pun diambilnya, dan dia pergi begitu saja tanpa ucapan terimakasih, atau dengan memberikan satu dirham, sepatah kata, maupun dengan memberikan apa saja. Ya Allah, aku biarkan semua itu untuk-Mu, maka gantilah untukku sesuatu yang lebih baik darinya, ” kata orang yang menemukan kalung itu.

Kemudian dia pergi ke laut, dan menumpang sebuah perahu. Setelah di laut, tiba-tiba angin bertiup kencang sekali, dan perahu yang ditumpanginya itu pun karam. Akhirnya dia mengapung-apung di atas air dengan sebatang kayu yang dimainkan angin ke kiri dan ke kanan, hingga akhirnya terdampar di sebuah pulau. Ia kemudian turun ke daratan. Di pulau itu dia mendapatkan sebuah masjid dan orang-orang yang sedang melakukan shalat, dia pun kemudian ikut shalat bersama mereka.

Di masjid itu ia menemukan lembaran-lembaran kertas yang setelah dibacanya ternyata ayat-ayat Al-Qur’an. Salah seorang dari mereka bertanya kepadanya, “Apakah anda sedang membaca Al-Qur’an?”

” Ya,” jawab orang itu. Kemudian penduduk pulau itu berkata, “Ajarilah anak-anak kami Al-Qur’an.” Dia pun setuju untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka dengan dibayar.

Kemudian dia menuliskan tulisan Arab, dan orang itu pun bertanya lagi, “Apakah anda bisa mengajari anak-anak kami tulis-menulis?”

Jawabnya, “Ya.” Maka dia pun mengajari anak-anak mereka dengan menerima bayaran.

Orang-orang di pulau itu kemudian bercerita bahwa di tempat itu ada seorang perempuan yatim, anak dari seseorang yang sangat baik. Kini orang tuanya meninggal dunia. “Apakah anda mau menikahinya?” tanya orang-orang Itu kemudian.

Dia menjawab, “Tidak apa-apa.” Dan, dia pun akhirnya menikah dengan perempuan yatim tersebut. Ketika masuk ke kamarnya, di hari pertama, dia melihat kalung yang pernah dia temukan itu melingkar di leher istrinya itu.

Maka ia pun bertanya, “Bagaimana kisah tentang kalung ini?” Si istri itu pun kemudian bercerita. Dalam cerita itu disebutkan bahwa ayahnya suatu waktu pernah menghilangkannya di Makkah. Kata si ayah kepadanya, kalung ini ditemukan oleh seorang laki-laki yang kemudian diserahkan begitu saja kepadanya. Sepulang dari Makkah, si ayah selalu berdoa dalam sujudnya semoga Allah mengaruniakan suami buat anak perempuannya seperti laki-laki yang menemukan kalung itu. Di akhir ceritanya, si suami menyergah, “Sayalah laki-laki itu.”

Sekarang, kalung itu berada di sisi laki-laki itu dengan status halal. Dia telah meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah pun menggantikannya dengan yang lebih baik. “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali sesuatu yang baik.”(Al-Hadits)

(Dikutip dari La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 24 Juni 2015 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,

Raihanah

Ia tak tahu, siapa dirinya, dan darimana asal-usulnya, kecuali namanya, Raihanah. Bahwa suatu hari sekawanan perampok telah menyerbu kampungnya. Mereka menjarah dan merampas apa saja yang ada, lalu melakukan pembunuhan dengan kejam. Kampung itu mereka binasakan, dan kemudian pergi begitu saja.

Hanya Raihanah saja yang tinggal. Barangkali, karena ia masih kecil, dengan tubuhnya yang kurus dan tampak sakit-sakitan, maka sengaja ia tidak dibunuh. Ia dibiarkan hidup sebagai pelajaran bagi yang lain, begitu barangkali pikir mereka.

Hari berganti hari, Raihanah pun tumbuh dewasa. Ia kini telah menjadi seorang gadis, hidup sendirian di tengah padang belantara, dimana sepanjang mata memandang, hanya pasir yang tampak. Kawannya hanya seekor unta yang dengan setia memberinya susu setiap hari, dan beberapa ekor ayam, kambing dan domba yang tidak banyak jumlahnya. Ia sengaja menanam beberapa jenis sayuran dan memelihara rumput yang tumbuh di situ. Ia makan bersama ternak piarannya.

Dimalam hari, tatkala hawa dingin meremas tubuhnya, atau ketika panas matahari mendera punggungnya di siang hari, ia berlindung didalam gubuknya yang reot, yang sudah berlubang  disana-sini, sulit untuk diperbaiki. Namun demikian, Raihanah tak pernah mengeluh, ia ridho dan puas atas segala yang telah menimpa dirinya. Sedikit pun ia tidak marah kepada Tuhan, bahkan ia tetap memuji-Nya, layaknya seperti orang kaya yang punya apa saja.

Tak hanya sampai disitu. Pada suatu hari, berhembuslah angin yang sangat kencang. Tidak seperti biasanya, mendadak cuaca menjadi gelap, dan badai yang lebih dahsyat pun datang. Bukit-bukit pasir mulai bergeser dari tempatnya, pasir debu beterbangan di udara. Maka, dengan tergesa-gesa Raihanah mencari perlindungan. Didapatinya sebuah lubang yang cukup dalam dan luas, tidak jauh dari gubuknya. Maka, turunlah ia kesana. Sekilas hatinya merasa tenteram, meski ia berpikir bahwa tanda-tanda kiamat telah tiba.

Namun, ternyata tidak lama. Sebentar saja sesudah itu, angin reda kembali. Tak ada badai, tak ada topan. Semuanya tenang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Maka, keluarlah Raihanah dari tempat perlindungannya, dan ia terkejut melihat segalanya telah berubah. Panci yang tadi ia letakkan di atas tungku tampak terbalik. Dari sanalah kiranya kebakaran telah terjadi. Agaknya, api di tungku itu telah menjilat rerumputan di sekitarnya, kemudian oleh angin dibawanya membakar gubuknya. Kemudian, hewan ternak yang ada pun tak dapat menghindar dari kebinasaan. Api telah membakar apa saja yang ditemuinya tanpa terkendali. Tanaman-tanaman kecil yang ada disitu juga terbakar. Semuanya habis terbakar dan terkubur dalam onggokan pasir.

Raihanah memandang sekelilingnya, dan ia sadar, dirinya sudah tak punya apa-apa lagi. Betul-betul tak punya apa-apa, baik gubuk, ternak, bahkan sejumput rumput pun tidak. Apalagi pakaian dan makanan. Namun, ia masih sempat memandang ke langit. Matanya berputar-putar disana, dan dengan kerelaan penuh, bibirnya tampak tersenyum. Dengan hati yang lapang, ia berucap, “Tuhan, lakukanlah atas diriku sekehendak-Mu. Toh rizkiku ada pada-Mu jua.”

Sungguh menakjubkan sekali, karena tak lama kemudian, datanglah serombongan kafilah. Agaknya mereka berada tak jauh dari situ ketika bencana terjadi. Pertama-tama, kafilah itu berputar-putar di sekeliling daerah itu, menghindari bahaya yang mungkin bisa terjadi. Tetapi, sejauh itu mereka tidak melihat adanya manusia seorang pun, andaikata tidak ada nyala api yang belum habis membakar sisa harta Raihanah. Raihanah ada di sisi api itu dan kafilah pun menghampirinya.

Raihanah pun menceritakan kepada kafilah itu segala apa yang telah terjadi dan yang dilakukan oleh badai serta api dengan tak kenal belas kasihan, telah membakar gubuk dan ternaknya hingga menjadi arang.

Kafilah itu tidak segera pergi dari situ. Mereka kemudian beristirahat, makan dan minum bersama-sama Raihanah dan memuji kepada Allah atas keselamatan wanita itu. Juga berterimakasih atas keterangannya, bahkan kagum atas ketabahan yang dimiliki Raihanah.

Kemudian, mereka memutuskan takkan pergi dari situ sebelum membangun sebuah rumah. Biarlah rumah itu menjadi tempat persinggahan para musafir yang lewat.

Akhirnya, pemimpin kafilah itu meminang Raihanah dan memperistrinya. Hari demi hari, di sekeliling rumah mereka dibangun rumah-rumah baru. Tanah-tanah disekitarnya ditanami berbagai macam tanaman dan buah-buahan. Penduduk pun semakin banyak. Dan entah sudah berapa pemimpin dan raja yang menguasai daerah itu sampai saat ini. Orang sudah tak ingat lagi nama-nama mereka satu persatu. Tapi, nama Raihanah tetap bergema disana setiap saat. Orang datang dan pergi ke tempat itu, dan senantiasa mengucapkan kata Raihanah. Karena nama itu kini berubah menjadi nama tempat, dimana wanita tadi pernah hidup, yaitu Wahah Rainah, sebuah tempat peristirahatan yang nyaman di tengah padang pasir yang panas meradang, menjadi kerinduan setiap pengunjung yang menginginkan kesejukan. Dan siapapun yang pernah mendengar kisah tempat itu atau lewat disitu, ia pasti memuji dan berdoa untuk kesejahteraan pemilik nama aslinya, Raihanah, dan mengenangnya sebagai manusia teladan.

(Kisah-kisah teladan sepanjang sejarah Islam/Ir. Abdur Razaq Naufal)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2015 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: , ,

Maha Suci Allah Yang Maha Hidup Tak Kenal Mati

Imam Malik adalah seorang penulis terkenal. Beliau telah menulis kitab-kitab rujukan Islam dan tulisan-tulisan lain yang banyak. Memang, beliau adalah salah seorang ulama Islam terbesar pada masanya maupun sesudahnya. Dan tentu saja, para penganut dan murid-muridnya pun banyak pula. Bahkan, di antaranya ada yang senantiasa mengikuti kemana pun beliau pergi. Sejengkal pun tak pernah berpisah dari sisi beliau, seolah awan yang selalu menaunginya. Mereka belajar dan mengulang-ulang pelajaran darinya. Demikianlah seterusnya, hingga beliau meninggal dunia.

Sebelum meninggal, pernah beliau berjanji akan tetap berkunjung kepada murid-muridnya kelak kalau sudah mati lewat mimpi. Lewat mimpi itu beliau hendak meneruskan pelajaran dan ilmunya. Dan betul juga, pada hari kedua dan seterusnya setelah wafatnya beliau muncul dalam mimpi. Satu demi satu murid-muridnya didatangi. Dan terjadilah tanya jawab antara sang Imam dengan muridnya.

“Apa yang tuan alami, hai tuanku Imam?” tanya murid-murid dalam mimpi mereka.

“Tuhan telah mengampuni aku, dan para malaikat memberi kabar gembira padaku tentang surga yang tersedia untukku,” jawab sang Imam.

Bukan main gembiranya murid-murid itu mendengar pengakuan gurunya, “Dengan amal apakah kiranya Allah mengampuni tuan dan memasukkan ke dalam surga?”

Mereka menunggu, jawaban apakah kiranya yang bakal disampaikan oleh guru mereka. Di antara mereka ada yang menyangka, barangkali karena banyaknya shalat, sehingga gurunya itu dimasukkan ke dalam surga, atau karena sering berpuasa.

Dan yang lain menyangka, boleh jadi karena ketekunan beliau dalam belajar dan kesungguhannya dalam mengajar murid-muridnya.

Tetapi, ternyata sang Imam mengatakan, “Semasa aku hidup, bila melihat orang mati, maka aku katakan:

سُبْحَانٌ الْحَيِّ الَّذِىْ لَايَمُوْتُ
” Maha Suci Allah Yang Hidup tiada akan mati.”

Perhatikanlah, iman dan keyakinan manakah yang senantiasa diucap-ucapkan Imam Malik, hingga dengan itu Tuhan berkenan memasukkan beliau ke dalam surga-Nya?

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2014 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,

Tawakal yang Sebenarnya

Diriwayatkan dari Syafiq Al-Balkhi, bahwa ia mengatakan, “Ketika aku pergi ke Mekah, di tengah jalan aku melihat seseorang yang lumpuh terduduk di atas tanah. Lalu aku menegurnya,” Dari manakah engkau datang?”

“Dari Samarkand,” Jawabnya.

“Sudah berapa lamakah engkau berjalan?”

Dia katakan, “Lebih dari lima tahun.”

Aku pandangi orang itu sambil terheran-heran, sampai dia menegurku, “Kenapa kau melihat padaku terheran-heran seperti itu?”

Aku menjawab, “Karena aku lihat engkau begitu dha’if, telah menempuh perjalanan sekian jauhnya.”

“Sedang jauhnya perjalanan,” katanya, “Maka, rasa rindulah yang mendekatkannya, sedang tubuhku yang dha’if, maka Tuhanlah yang membawanya. Masih herankah kau bila seorang hamba yang dha’if dibawa pergi jauh oleh Tuhan Yang Maha Lathif?”

Masih ada kaitannya dengan perjalanan ke Mekah juga, bahwa seseorang ketika menuju ke sana, melihat seorang anak yang tengah shalat, jauh dari jalan yang biasa dilalui rombongan-rombongan berunta. Orang itu menunggu sampai dia mengakhiri shalatnya. Kemudian menyalaminya dan bertanya, “Adakah kawan yang menghiburmu?”

Anak itu menangis, tetapi kemudian menjawab, “Ya.”

“Mana dia?” tanya tamunya.

Anak itu menjawab, “Dia ada di depanku, di belakangku, di sebelah kanan dan kiriku.”

” Adakah kamu membawa bekal?” tanya orang itu lagi.

“Ya,” jawabnya. Dan ketika ditanya, “Mana?” Maka jawabnya, “Dalam hatiku terdapat keikhlasan kepada Tuhanku.”

Lalu, laki-laki itu menawarkan jasanya, “Bolehkah aku menemanimu?”

Namun dijawab, “Seorang teman bisa mengganggu ingatan kepada Allah, dan aku tidak mau seorang pun mengganggu aku dari mengingat Allah.”

Laki-laki itu masih juga mencoba. Disodorkan olehnya sedikit perbekalan yang ia bawa, lalu diberikannya kepada ahli ibadah itu, seraya katanya, “Buat bekal makananmu.” Tetapi ia menolak, bahkan katanya, “Tuhan yang telah memberi makan kepadaku dalam kegelapan perut ibuku semasa aku bayi, pasti menjamin rejekiku dikala aku tua.”

Laki-laki itu hendak pergi ketika kemudian ia meminta didoakan oleh ahli ibadah itu kepada Allah. Dan permintaannya kali ini ia kabulkan, seraya mengucapkan salam perpisahan,

حَجَّبَكَ اللّهُ عََنْ كُلِّ مَعْصِيَةٍ، وَشَغَلَكَ بِمَا يُقَرِّبُكٌ إِلَيْهِ.

Semoga Allah menghalangi dirimu dari segala maksiat, dan menyibukkan kamu dengan perbuatan yang dapat mendekatkan kamu kepada-Nya.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juli 2014 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,

Wudhu Batin dan Shalat ‘Abid

‘Isham bin Yusuf pernah datang ke majelis pengajian Hatim Al-Asham. Setelah berbincang-bincang dan membicarakan beberapa hal yang berguna bagi mereka berdua maupun pendengar yang lain, waktu shalat pun tiba. Maka, semua yang hadir bersiap-siap hendak melakukan shalat. Mereka pergi berwudhu, yang dalam hal ini, Hatim tidak segera menyelesaikannya. Beberapa lama ia tetap berdiri tegak di depan air, tidak segera membasuh anggota-anggota tubuhnya. Sampai akhirnya ‘Isham bertanya padanya,

“Kenapa kau tidak segera menyelesaikan wudhumu, hai Abu Abdul rahman?”

Hatim menjawab, “Sesungguhnya, saya memulai dulu dengan wudhu batin.”

“Wudhu batin?!” pikir ‘Isham dengan terheran-heran, lalu bertanya, “Kenapa begitu?”

Hatim menerangkan, “Apabila saya berwudhu, maka yang saya lakukan ialah wudhu lahir dan wudhu batin, dan saya mulai terlebih dahulu dengan wudhu batin. Kalau wudhu lahir itu berupa membasuh anggota wudhu yang tujuh dengan air, yakni dua telapak tangan, mulut, hidung, wajah, dua lengan, kepala dan dua kaki. Maka, wudhu batin itu ialah membasuh bagian dalam dengan tujuh alat pembasuh, yaitu taubat, menyesal, tidak menyukai dunia, tidak ingin dipuji orang, tidak ambisi menjadi pemimpin, tidak menaruh dendam dan tidak mendengki orang.”

‘Isham sangat kagum mendengar keterangan sahabatnya itu, lalu berkata, “Kalau wudhumu saja sudah begitu, maka bagaimanakah dengan shalatmu?”

Jawab Hatim, “Apabila aku sudah berdiri tegak hendak melakukan shalat, maka selama anggota badanku aku kendurkan, sehingga aku dapat melihat Ka’bah dengan mata hatiku. Aku berdiri antara hajatku dan rasa takutku kepada Illahi. Aku mantapkan dalam hatiku bahwa Allah sedang mengawasi aku, sedang surga telah berada di sebelah kananku, dan neraka di sebelah kiriku, sementara malaikat maut sudah berada di belakang punggungku. Begitulah, bahkan, layaknya aku telah menapakkan kakiku di atas Shirat, dan aku pikir inilah shalatku yang terakhir kalinya. Barulah sesudah itu aku berniat, lalu membaca takbir sebaik-baiknya. Dalam shalat aku membaca surat seraya memahami artinya, lalu ruku’ dengan penuh kerendahan dan sujud dengan penuh kehambaan. Dalam tasyahud, aku tumpahkan seluruh harapanku, dan akhirnya aku ucapkan salam penuh keikhlasan.”

“Sejak kapankah engkau melakukan shalat dengan cara demikian?” tanya  ‘Isham.

Jawab Hatim sederhana saja, “Wudhu dan shalatku yang seperti itu, saya lakukan sejak aku menyadari bahwa aku hanyalah seorang makhluk, dan bahwa aku ada yang menciptakan. Kalaupun sekarang aku hidup, toh akhirnya pasti mati, kemudian aku dihisab, lalu aku disiksa atau diberi pahala. Tetapi, kalau yang kau tanyakan sudah berapa tahunkah saya berbuat demikian, maka hal itu baru tiga puluh tahun.”

‘Isham menangis mendengar penjelasan sahabatnya. Dan sejak itu, ia pun meniru-niru dengan melakukan wudhu batin dan melakukan shalat secara baik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juli 2014 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,

Bagaimana Pencuri-pencuri itu Bertaubat?

Sekawanan pencuri pada suatu malam ke luar untuk membegal sebuah kafilah yang kabarnya akan lewat di suatu jalan. Setelah mereka menunggu sekian lama, kafilah itu tidak lewat-lewat juga, sementara malam semakin larut. Kafilah itu tetap tidak mereka temukan jejaknya. Sudah pasti kafilah itu telah berlalu dengan aman hingga pagi, sedang para penjahat itu tak bisa lagi membuntutinya.

Para pencuri itu gagal, lalu pergi, dan tampaklah dari jauh sebuah rumah yang reot. Dari dalamnya memancar secercah sinar lampu. Rumah itu mereka datangi lalu diketuk pintunya sambil berkata, “Kami sepasukan pejuang fiisabilillah, baru pulang dari peperangan, tetapi kemalaman. Oleh karena itu, kami bermaksud hendak menginap sebagai tamu tuan-tuan.”

Tuan rumah itu menyambut dengan sebaik-baiknya. Mereka diberi kamar tersendiri, diberi pelayanan sebagaimana mestinya, bahkan sempat dihidangkan makanan seadanya.

Keluarga itu mempunyai seorang anak yang lumpuh akibat suatu penyakit hingga ia sama sekali tak bisa berjalan. Pagi hari, ketika tamu-tamu mereka pamit, maka bangkitlah ayah anak itu. Diambilnya bejana yang masih tersisa di dalamnya bekas air tamu-tamunya, sisa mandi mereka, seraya katanya pada istrinya, “Usaplah anak kita seluruh tubuhnya dengan air ini. Mudah-mudahan, ia dapat sembuh berkat para pejuang fiisabilillah itu. Air ini adalah sisa mandi dan wudhu mereka.”

Istrinya menurutinya. Sore harinya para penjahat itu kembali lagi bertamu ke rumah tadi, sehabis mencuri, membegal dan menggarong. Maksud mereka, sama seperti kemarin, ingin bermalam dan bersembunyi agar tidak ketahuan orang-orang yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Namun, kali ini mereka melihat anak yang lumpuh itu ternyata sudah bisa berjalan tegak. Tentu saja mereka heran sekali, lalu bertanya kepada tuan rumah, “Benarkah anak ini yang kemarin dan pagi tadi kami lihat masih lumpuh?”

“Benar,” tegas tuan rumah. “Tadi saya ambil sisa air tuan-tuan, yakni kelebihan wudhu tuan-tuan. Lalu saya usap-usapkan ke tubuh anak itu. Dan dengan berkah dari tuan-tuan, kiranya Allah memberi kesembuhan padanya. Bukankah tuan-tuan ini para pejuang dan para pembela agama Allah?”

Mendengar itu, para penjahat itu menangis sejadi-jadinya. Lalu, kata mereka kepada tuan rumah, “Ketahuilah hai saudara, bahwa kami ini bukan para pejuang, tetapi kami ini pencuri dan perampok. Namun, Allah rupanya telah menyembuhkan anakmu berkat niatmu yang baik. Dan kami sekarang benar-benar taubat kepada Allah, taubat yang nashuh.”

Sesudah itu, mereka keluar untuk membagikan hasil curian mereka kepada orang-orang fakir dan kaum miskin. Mereka tidak ingin kembali lagi berbuat dosa dan berkata bohong. Bahkan, mereka kemudian pergi menggabungkan diri ke dalam barisan tentara kaum muslimin, sehingga benar-benar menjadi para pejuang fiisabilillah, seperti pengakuan yang dusta kepada penghuni rumah tadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Juli 2014 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: , ,

Kisah Gadis Kecil

Fajar Syawal menyingsing di langit kota Madinah. Semua orang berjalan menuju lapangan untuk menunaikan shalat id. Satu persatu kaki-kaki melangkah sambil menyeru asma Allah melalui takbir, hingga langit pun bersaksi, di hari itu segenap mata tak kuasa membendung air mata keharuan saat berlebaran.

Sementara itu, langkah sepasang kaki terhenti karena sesenggukan gadis kecil di tepi jalan.

“Gerangan apakah yang membuat engkau menangis, anakku?” lembut menyapa suara itu menahan beberapa detik senggukan sang gadis.

Tak menoleh gadis kecil itu ke arah suara yang menyapanya, matanya masih menerawang tak menentu, seperti mencari sesosok yang amat ia rindukan kehadirannya di hari bahagia itu. Ternyata, ia menangis lantaran tak memiliki baju yang bagus untuk merayakan hari kemenangan itu.

“Ayahku mati syahid dalam sebuah peperangan bersama Rasulullah,” tutur gadis kecil itu menjawab tanya pria di hadapannya tentang ayahnya.

Seketika, pria tersebut mendekap gadis kecil itu.

“Maukah engkau seandainya Aisyah menjadi ibumu, Muhammad ayahmu, Fatimah bibimu, Ali sebagai pamanmu, dan Hasan serta Husain menjadi saudaramu.”

Sadarlah gadis itu bahwa pria yang sejak tadi berdiri di hadapannya tak lain adalah Muhammad Rasulullah saw.

Siapakah yang tak ingin berayahkan pria paling mulia, dan beribu seorang ummul mu’minin?

Begitulah manusia paling agung itu membuat seorang gadis kecil yang bersedih di Hari Raya kembali tersenyum. Barangkali itulah senyum terindah seorang anak yatim.

Rasulullah membawa serta gadis kecil itu ke rumahnya, beliau berikan pakaian bagus, sehingga ia tampak tak berbeda dengan Hasan dan Husain.

Rasulullah saw sangat mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi dan keluarganya sendiri. Teladan seperti ini begitu melekat dalam benak orang-orang zaman dahulu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Juni 2014 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: