RSS

Arsip Kategori: Kisah-kisah Bismillah

Munajat Nabi Daud AS kepada Allah

Nabi Daud AS dalam munajatnya kepada Allah menginginkan agar Dia memberinya teman di surga. Kemudia terdengar seruan, “Esok hari keluarlah dari gerbang kota. Orang yang pertama kali engkau jumpai, ia adalah temanmu di surga.”

Keesokan harinya, Nabi Daud beserta putranya, Sulaiman, keluar dari gerbang kota. Ia melihat seorang pria tua membawa seikat kayu bakar dari gunung untuk dijual. Pria tua itu, bernama Matta, berhenti di sisi gerbang kota seraya berteriak menawarkan kayu bakar, “Siapa yang ingin membeli kayu bakar?”

Seseorang datang dan membeli kayu bakar tersebut. Nabi Daud menghampirinya, memberi salam, dan berkata, “Apakah hari ini engkau bersedia menerima diriku sebagai tamumu?”

“Tamu adalah kekasih Allah, silakan.”

Pria tua membeli sejumlah gandum dari uang penjualan kayu bakarnya. Tatkala mereka tiba di rumah, pria tua segera menggiling gandum untuk membuat tiga keping roti. Mereka mulai menikmati hidangan yang ada. Pria tua senantiasa mengucapkan Bismillah setiap kali hendak memakan roti. Setelah selesai makan, ia mengucapkan Alhamdulillah.

Setelah mereka selesai menikmati makan siang sederhana, pria tua mengangkat tangan ke langit berdoa sambil menangis, “Ya Allah, kayu bakar yang kujual, Engkau yang menanam pohonnya, kemudia Engkau mengeringkannya, Engkau memberiku kekuatan menebang kayu bakar, Engkau mengirim pembeli yang membeli kayu bakar, dan terigu yang kami makan adalah Engkau yang menumbuhkan benihnya. Engkau memberiku kemampuan menggilingnya menjadi terigu dan memasaknya menjadi roti; apa yang mampu aku lakukan dalam menghadapi kenikmatan ini?”

Nabi Daud memandang ke arah putranya dengan pandangan penuh makna. Inilah, pikir Nabi Daud, yang menyebabkan pria tua ini disatukan dengan para nabi.

(Dari Kisah-Kisah Bismillah – Ahmad Mir dan Qasim Mir Khalaf Zadeh)

Posted from WordPress for Android

Iklan
 

Tag: , , ,

Dengan Keagungan Bismillah

Seorang ulama menuturkan, ada seorang pria yang datang menemui seorang ulama besar seraya berkata, “Tuan, apa nama Allah yang agung itu (al-Ism al-‘Azhim)? ”

Ulama besar ini mempersilakan pria itu tinggal bersamanya. Sampai pada suatu malam yang amat dingin, ia memanggil pria tersebut, “Sekarang, pergilah ke tengah padang pasir di ujung kota. Di sana terdapat sebuah sumur, ambillah air.”

Kemudian, pria itu berjalan menuju sumur, mengambil sejumlah air, dan kembali pulang. Tiba-tiba, di tengah jalan, seekor singa muncul di hadapannya. Bergetar tubuhnya mengucapkan ‘Bismillahirrohmanirrohim’. Si pria jatuh pingsan ke tanah.

Untunglah setelah siuman, ia tidak melihat singa tadi. Ia segera bangun dan meneruskan perjalanan pulang menuju rumah ulama besar. Sesampainya di rumah, tuan rumah bertanya, “Mengapa engkau begitu lama?”

Pria itu menceritakan kejadian yang dialaminya.

“Kalimat yang engkau ucapkan merupakan nama Allah yang paling agung. Engkau mengucapkannya dari hati yang tulus dan dalam keadaan terdesak.” Ulama besar menjelaskan.

Jaminan dikabulkannya doa salah satunya karena ada situasi. Saat merasa ketakutan dan kebingungan, anda memutus hati dari berbagai keterikatan, dan hanya bergantung dan mengikatkan hati kepada Allah semata, seraya mengucapkan ‘Bismillahirrohmanirrohim‘. Doa yang anda panjatkan itu layak dikabulkan.

(Dari Kisah-Kisah Bismillah – Ahmad Mir dan Qasim Mir Khalaf Zadeh)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Februari 2014 in Kisah-kisah Bismillah, Renungan

 

Tag: , , , ,

Suara yang Menggetarkan Hati

Burung Hud-Hud mengabdi kepada Nabi Sulaiman AS karena ia mampu mengetahui di mana letak air tanah. Nabi Sulaiman pun amat menginginkan Hud-Hud selalu bersamanya. Suatu hari Nabi Sulaiman tidak mengetahui keberadaannya. Beliau merasa sangat kehilangan Hud-Hud.

“Jika ia tidak memberi alasan jelas atas kepergiannya, aku akan menegurnya atau bahkan menyembelihnya,” gerutu Nabi Sulaiman.

Setelah beberapa lama, Hud-Hud datang.

“Dari mana saja engkau?” Tanya Nabi.

“Aku terbang ke beberapa penjuru mencari berita. Lalu, aku menemukan sebuah negeri bernama Saba. Negeri itu dipimpin seorang ratu. Namun, setan berhasil menyesatkan negeri itu sehingga mereka tidak menyembah Allah Swt. Mereka menyembah matahari,” ujar Hud-Hud bersemangat.

“Oh, rupanya begitu. Baiklah, aku akan menulis untuk ratu negeri itu. Engkau yang mengantarkan kepadanya.”

Hud-Hud membawa surat Nabi Sulaiman kepada Ratu Balqis – ratu negeri Saba. Lewat suratnya Nabi Sulaiman mengajak Ratu Balqis dan rakyatnya kepada ajaran tauhid dan beribadah kepada Tuhan yang Esa.

Setelah Ratu Balqis membaca surat dari Nabi Sulaiman, ia bermusyawarah dengan para pembesar negeri Saba berkaitan dengan ajakan Nabi Sulaiman. ” Aku menerima surat Sulaiman. Di awal surat tertulis, BismillahirRahmanirRahim. Sulaiman mengajak kita datang menemuinya dengan tunduk dan menyerah serta tidak mengadakan perlawanan. Aku hendak bermusyawarah dengan kalian dan mengetahui pendapat kalian.”

“Engkau pemimpin kami dan kami menyerahkan keputusan kepadamu. Putuskanlah apa yang kau anggap baik,” kata para pembesar negeri Saba.

“Aku tidak yakin kita mampu melawan pasukan Sulaiman. Perang hanya akan membuat kerusakan dan kehinaan. Karenanya, sebaiknya kita mengirimkan hadiah untuk Sulaiman. Kesempatan ini akan digunakan para utusan kita meneliti dan mengamati kekuatan mereka sehingga kita dapat menentukan sikap menghadapi seruan Sulaiman,” kata Ratu Balqis.

Kemudia emas dan permata pun diantar kepada Nabi Sulaiman. Para utusan Ratu Balqis tiba di istana Nabi Sulaiman. Mereka tercengang dan merasa kagum menyaksikan kemegahan istana dan kekayaan Nabi Sulaiman. Mereka merasa hadiah yang mereka bawa sama sekali tidak bernilai

“Aku menyeru kepada kalian untuk tunduk dan patuh pada tuntunan Ilahi, tetapi kalian membawa hadiah untukku. Bawalah kembali hadiah yang kalian bawa. Jika kalian tidak beriman kepada Allah, dalam waktu dekat aku akan melakukan penyerangan dengan pasukan yang tak terhitung jumlahnya.”

Mereka pun pulang dan melaporkannya pada ratu. Ratu memutuskan untuk melakukan diplomasi langsung dan menemui Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman di singgasananya menunggu kedatangan Ratu Balqis.

“Balqis hendak datang kemari. Ia memiliki sebuah singgasana besar. Siapakah di antara kalian yang mampu mendatangkan singgasana Balqis kemari?”

“Aku mampu mendatangkannya sebelum engkau bangkit dari tempat dudukmu,” jawab seorang di antara mereka.

“Aku akan mendatangkan singgasananya sebelum engkau berkedip,” ujar yang lain.

Ratu Balqis merasa heran melihat singgasananya berada di istana Nabi Sulaiman. Karenanya, ia pun beriman kepada Allah.

Ratu Balqis berkata, “Sesungguhnya, kami telah berbuat aniaya kepada diri kami sendiri, telah menjadikan sesuatu sebagai sekutu Allah. Sekarang aku beriman kepada Tuhan semesta alam dan siap melaksanakan ajaran agama-Nya.”

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Januari 2014 in Kisah-kisah Bismillah

 

Tag: , , ,

Berkah Mengingat Allah

Dimana pun orang beriman berada, walaupun di jalan atau di pasar, baik itu pada siang maupun malam, kerapkali membaca “Bismillahir Rahmanir Rahim” agar dijauhkan dari gangguan setan. Terhindarnya manusia dari perbuatan jahat dan gangguan setan merupakan berkah mengingat dan menyebut nama Allah.

Rasulullah SAW mengatakan, setan bersemayam di hati setiap manusia. Saat hati mengingat Allah, setan akan lari dan manusia selamat dari gangguannya. Namun tatkala hati tidak mengingat Allah, saat itu setan menawan si pemilik hati serta mendorongnya melakukan berbagai perbuatan keji.

(Dikutip dari Kisah-kisah Bismillah – Ahmad & Qasim Mir Khalaf  Zadeh)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 27 Januari 2014 in Kisah-kisah Bismillah

 

Tag: ,

Tiga Nama Penolong

Tatkala mengucapkan Bismillahirrohmanirrohim, berarti menghambakan dan merendahkan diri kepada-Nya. Kita memohon pertolongan dengan nama-Nya, yaitu Allah, ar-Rahman, dan ar-Rahim. Tidak diragukan kata Allah merupakan nama Tuhan yang paling agung.

Imam Ja’far ash-Shadiq berkata, “Karena manusia tidak mampu melakukan suatu perkara tanpa pertolongan-Nya, Dia mengkaruniakan tiga dari nama-Nya.”

“Di antara ketiga nama, yang paling jelas adalah Allah. Karenanya, Allah merupakan nama-Nya yang paling agung. Lalu, mengapa dalam Bismillahirrahmanirrahim disebutkan tiga dari nama Tuhan? Karena manusia terdiri dari tiga kelompok, yaitu:

  • Pertama, manusia yang menginginkan dunia.
  • Kedua, manusia yang menginginkan akhirat.
  • Ketiga, manusia yang menginginkan Tuhan-nya.

Manusia yang menginginkan Tuhan memohon pertolongan dengan nama Allah. Manusia yang menginginkan akhirat, memohon pertolongan dengan nama ar-Rahim karena nama ini rahmat khusus bagi Mukminin. Manusia yang menginginkan dunia, memohon pertolongan dengan nama ar-Rahman karena nama ini rahmat Tuhan bagi seluruh makhluk-Nya.

Oleh karena itu, Tuhan mengkaruniakan kepada manusia tiga nama-Nya untuk memohon pertolongan. Hendaknya saat memohon pertolongan Allah, jadikan tiga nama itu sebagai perantara.”

Dari: Kisah-kisah Bismillah / Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh; penerjemah, Ibnu Alwi Bafaqih; penerbit, Qarina, Jakarta, 2005.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2011 in Kisah-kisah Bismillah

 

Tag: ,

Pembicaraan Setan Tentang Bismillah

Pada suatu hari, setan gemuk dan setan kurus bertemu. Keduanya saling bertanya keadaan masing-masing. Setan gemuk bertanya kepada setan kurus,
“Mengapa tubuhmu begitu kurus?”

“Aku ditugaskan mengikuti seorang mukmin yang bertakwa. Saat ia duduk di depan hidangan dan siap untuk makan, aku juga duduk bersamanya. Sebelum menyantapnya, ia mengucapkan Bismillah sehingga aku terusir dan kelaparan. Kau lihat tubuhku sangat kurus karenanya. Bagaimana denganmu?”

“Aku ditugaskan mengikuti seorang yang tidak beriman dan sama sekali tidak mengenal Allah. Ia sama sekali tidak pernah menyebut nama Allah. Aku selalu mengikutinya kemanapun ia pergi dan aku juga makan bersamanya. Karena inilah tubuhku tumbuh subur.”

Dari: Kisah-kisah Bismillah / Ahmad Mir Khalaf Zadeh & Qasim Mir Khalaf Zadeh; penerjemah, Ibnu Alwi Bafaqih; penerbit, Qarina, Jakarta, 2005.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Maret 2011 in Kisah-kisah Bismillah

 

Tag: