RSS

Tetaplah Ridha Walaupun Harus Menggenggam Bara

23 Jun

Seseorang dari Bani ‘Abs keluar mencari untanya yang hilang. Tiga hari lamanya sampai tidak pulang. Ia sudah berusaha mencari kemana-mana. Padahal, dia seorang yang kaya dan memiliki segalanya. Harta dan keluarganya berada di sebuah rumah yang mewah di dekat aliran air di daerah Bani ‘Abs. Mereka hidup enak, aman, dan tenang. Tidak pernah terpikir oleh mereka bahwa sebuah bencana bisa saja menimpa mereka, musibah bisa saja mengancam mereka.

Wahai orang yang tidur nyenyak di awal malam,
bencana bisa saja mengancam di dini pagi.

Semua keluarganya, baik yang besar maupun yang kecil tertidur. Mereka berada di tengah-tengah harta mereka, sementara bapak mereka sedang tidak ada, mencari barangnya yang hilang. Pada saat itulah Allah mengirimkan air bah yang menerjang bukit-bukit seperti debu, tanpa ampun. Dan itu terjadi di akhir malam. Semuanya hanyut, rumah-rumah mereka tercerabut, harta mereka ludes, dan semua anggota keluarganya ikut terbawa air. Kini semuanya hanya tinggal bekas, seakan-akan mereka tidak pernah ada. Yang ada hanyalah omongan dari mulut ke mulut.

Setelah tiga hari mencari unta, si bapak ini kembali ke lembah tempat tinggalnya. Tapi dia tidak merasakan kehadiran seseorang, tidak terdengar suara, tidak ada kehidupan, tidak ada orang bicara, dan tidak ada keceriaan. Tempat itu datar sama sekali. Ya Allah, sungguh sebuah bencana yang sangat berat, tak ada lagi istri, tak ada lagi anak-anak, tak ada lagi unta, tak ada domba, tak ada sapi, tak ada dirham, tak ada dinar, dan tak ada pakaian. Tak ada apa-apa. Sungguh sebuah musibah yang menghancurkan.

Satu-satunya unta yang masih ada lepas begitu saja. Dikejarnya unta itu. Ketika sudah hampir tertangkap, unta tersebut menendang wajah orang itu, dan membuatnya buta. Orang itu pun berteriak-teriak dengan harapan ada orang yang anda membawanya ke tempat yang bisa dia jadikan untuk berteduh. Berselang beberapa hari kemudian, suara itu terdengar oleh seorang Badui. Dihampirinya orang itu, dan dituntunnya. Kemudian si bapak buta ini dibawa menghadap al-Walid ibn Abdul Malik, khalifah di Damaskus. Orang itu pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya. Kata al-Walid, “Lalu bagaimana sikapmu?” Jawab si bapak, “Saya ridha kepada Allah.”

Sebuah kalimat yang sangat agung, yang diucapkan oleh seorang muslim yang di dalam hatinya terdapat tauhid. Ia menjadi bukti bagi orang-orang yang bertanya, nasehat bagi orang-orang yang mencari nasehat, dan pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran.

Kepada orang yang tidak ridha dan tidak menerima keputusan Zat yang menentukan, maka terserah kepada mereka. Bila mereka merasa mampu, maka carilah lorong ke dalam tanah, atau tangga menuju ke langit. Jika mau.

{{Maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit, kemudian hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya?}}  (QS. Al-Hajj: 15)

(Dikutip dari La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 23 Juni 2015 in Renungan

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s