RSS

Tikus yang Tak Tahu Bersyukur

22 Jun

Seekor tikus berlari tunggang langgang seperti kilat dengan lompatan panjang menyeberangi jalan becek, kemudian dengan sigap ia menyeruduk ke dalam got sempit yang bau. Seekor kucing hitam yang mengejarnya dengan penuh nafsu terpaksa berhenti di mulut got dengan wajah kesal. Tubuhnya yang besar tak bisa masuk guna menangkap tikus kurus itu.
“Terimakasih Tuhan!”, ujar tikus sembari bersujud karena nyawanya selamat dari sang kucing, musuh bebuyutannya yang sudah puluhan kali mengejarnya, namun ia selalu lolos. Saat itu sang tikus dengan khusyu’ berdoa, “Ya Tuhan.! Aku sudah bosan dikejar kucing. Izinkan aku untuk bisa menjadi kucing, sehingga derajat hidupku lebih tinggi. Engkau Maha Kuasa!”

Keesokan paginya saat bangun tidur, sang tikus gembira sekali, karena doanya dikabulkan Tuhan. Kini ia sudah menjadi kucing hitam, persis seperti kucing yang selalu mengejarnya. Dengan langkah gontai sang kucing berjalan sembari melihat ke kanan dan kiri, kalau-kalau ada tikus yang dapat disantapnya. Tiba-tiba dari arah sebelah timur seekor anjing herder bertubuh besar berlari ke arahnya. “Ada apa? Kenapa anjing itu mengejarku?” pikir si kucing. Benar, anjing herder berwarna kuning dengan bintik-bintik hitam itu mengejar si kucing. Tanpa pikir panjang, si kucing pun berlari terbirit-birit. Dengus lapar sang anjing yang tengah mengejarnya hanya berjarak sekitar satu meter di belakangnya, terdengar dengan jelas. Si kucing berlari sekuat tenaganya. Sebagai kucing jelas tak mungkin ia lari ke dalam got sempit dan bau seperti tikus. Dengan cepat sembari berlari si kucing memanjat pohon rambutan di dekatnya. “Alhamdulillah. Terimakasih Tuhan, aku selamat dari kejaran anjing,” ujar kucing dengan nafas terengah-engah. Anjing herder itu berjam-jam menunggu si kucing di bawah pohon rambutan itu. Si kucing marah dan jengkel. Untung anjing itu tak bisa memanjat!

Pada malam harinya, si kucing pun berdoa. “Ternyata jadi kucing lebih rumit. Ya Allah! Engkau Maha Kuasa, izinkanlah hamba menjadi anjing!”. Saat ayam berkokok esok paginya, si kucing terbangun dan ia gembira karena saat tidur, Tuhan mengabulkan doanya. Kini ia sudah menjadi seekor anjing herder yang besar dan gagah. Dengan bangga sebagai anjing herder, ia berjalan mengelilingi kota kecil itu. Perutnya terasa lapar dan butuh makanan dalam jumlah besar, karena perutnya kini jauh lebih besar ketimbang tikus dan kucing. Sang anjing pun mencari tempat sampah untuk mendapatkan sisa makanan. Saat baru mengorek-ngorek tempat sampah, tiba-tiba ia dilempari seorang pemulung dengan batu. Dug.. Dug.. Duug!!! “Sakit sekali!” keluh sang anjing. Karena tempat sampah itu merupakan langganan si pemulung sejak lama.

“Anjing sialan! Pergi kau! Jangan kau rebut rizkiku! Aparat kota sudah mengusirku. Kini kau anjing dekil juga ingin menggusurku?”. Sembari menahan rasa sakit yang tak terhingga, si anjing malang itu lari berjingkrak kesakitan. Di ujung jalan, sejumlah pemuda yang sedang bermain bola berteriak. “Itu anjing yang kemarin mengencingi bola kita. Ayo lempar anjing itu!”. Sang anjing pun berlari sekencang-kencangnya dengan perut kosong. Sang anjing berlari dan terus berlari dengan nafas hampir putus. Akhirnya, ia sampai di kawasan tanah kosong di pinggir kota. Kemudian sang anjing beristirahat sembari bersembunyi di belakang rumah kosong dengan perut lapar dan sangat letih. Saat itu sang anjing berdoa lagi. “Ya Tuhan! Ternyata jadi anjing lebih sulit lagi. Hamba ingin menjadikannya manusia. Kabulkanlah doa hamba!” Kemudian sang anjing pun tertidur.

Saat tidur sang anjing bermimpi didatangi seorang laki-laki berjubah putih dan ia berkata: “Hai anjing! Kamu adalah contoh makhluk yang tak pandai bersyukur. Kau makhluk yang tak pernah puas dan selalu iri kepada makhluk lain. Mulai saat ini doamu tak bisa dikabulkan lagi. Kamu Kami kembalikan lagi menjadi tikus!”. Saat fajar menyingsing, sang anjing terbangun, ia terkejut karena telah kembali menjadi tikus. Mulai saat itu si tikus bangga sebagai seekor tikus dan ternyata baginya lebih indah menjadi tikus. Sang tikus pun berkata kepada dirinya, “Kalaulah aku tak mendapat karunia dan rahmat dari Allah, niscaya aku termasuk orang-orang yang merugi”.

Renungan :”Jika kamu bersyukur, Allah akan menambah nikmat-Nya. Jika kamu tak bersyukur, tunggu saja azab Tuhan yang pedih!”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Juni 2015 in Renungan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s