RSS

Raihanah

18 Jun

Ia tak tahu, siapa dirinya, dan darimana asal-usulnya, kecuali namanya, Raihanah. Bahwa suatu hari sekawanan perampok telah menyerbu kampungnya. Mereka menjarah dan merampas apa saja yang ada, lalu melakukan pembunuhan dengan kejam. Kampung itu mereka binasakan, dan kemudian pergi begitu saja.

Hanya Raihanah saja yang tinggal. Barangkali, karena ia masih kecil, dengan tubuhnya yang kurus dan tampak sakit-sakitan, maka sengaja ia tidak dibunuh. Ia dibiarkan hidup sebagai pelajaran bagi yang lain, begitu barangkali pikir mereka.

Hari berganti hari, Raihanah pun tumbuh dewasa. Ia kini telah menjadi seorang gadis, hidup sendirian di tengah padang belantara, dimana sepanjang mata memandang, hanya pasir yang tampak. Kawannya hanya seekor unta yang dengan setia memberinya susu setiap hari, dan beberapa ekor ayam, kambing dan domba yang tidak banyak jumlahnya. Ia sengaja menanam beberapa jenis sayuran dan memelihara rumput yang tumbuh di situ. Ia makan bersama ternak piarannya.

Dimalam hari, tatkala hawa dingin meremas tubuhnya, atau ketika panas matahari mendera punggungnya di siang hari, ia berlindung didalam gubuknya yang reot, yang sudah berlubang  disana-sini, sulit untuk diperbaiki. Namun demikian, Raihanah tak pernah mengeluh, ia ridho dan puas atas segala yang telah menimpa dirinya. Sedikit pun ia tidak marah kepada Tuhan, bahkan ia tetap memuji-Nya, layaknya seperti orang kaya yang punya apa saja.

Tak hanya sampai disitu. Pada suatu hari, berhembuslah angin yang sangat kencang. Tidak seperti biasanya, mendadak cuaca menjadi gelap, dan badai yang lebih dahsyat pun datang. Bukit-bukit pasir mulai bergeser dari tempatnya, pasir debu beterbangan di udara. Maka, dengan tergesa-gesa Raihanah mencari perlindungan. Didapatinya sebuah lubang yang cukup dalam dan luas, tidak jauh dari gubuknya. Maka, turunlah ia kesana. Sekilas hatinya merasa tenteram, meski ia berpikir bahwa tanda-tanda kiamat telah tiba.

Namun, ternyata tidak lama. Sebentar saja sesudah itu, angin reda kembali. Tak ada badai, tak ada topan. Semuanya tenang seolah tak pernah terjadi apa-apa. Maka, keluarlah Raihanah dari tempat perlindungannya, dan ia terkejut melihat segalanya telah berubah. Panci yang tadi ia letakkan di atas tungku tampak terbalik. Dari sanalah kiranya kebakaran telah terjadi. Agaknya, api di tungku itu telah menjilat rerumputan di sekitarnya, kemudian oleh angin dibawanya membakar gubuknya. Kemudian, hewan ternak yang ada pun tak dapat menghindar dari kebinasaan. Api telah membakar apa saja yang ditemuinya tanpa terkendali. Tanaman-tanaman kecil yang ada disitu juga terbakar. Semuanya habis terbakar dan terkubur dalam onggokan pasir.

Raihanah memandang sekelilingnya, dan ia sadar, dirinya sudah tak punya apa-apa lagi. Betul-betul tak punya apa-apa, baik gubuk, ternak, bahkan sejumput rumput pun tidak. Apalagi pakaian dan makanan. Namun, ia masih sempat memandang ke langit. Matanya berputar-putar disana, dan dengan kerelaan penuh, bibirnya tampak tersenyum. Dengan hati yang lapang, ia berucap, “Tuhan, lakukanlah atas diriku sekehendak-Mu. Toh rizkiku ada pada-Mu jua.”

Sungguh menakjubkan sekali, karena tak lama kemudian, datanglah serombongan kafilah. Agaknya mereka berada tak jauh dari situ ketika bencana terjadi. Pertama-tama, kafilah itu berputar-putar di sekeliling daerah itu, menghindari bahaya yang mungkin bisa terjadi. Tetapi, sejauh itu mereka tidak melihat adanya manusia seorang pun, andaikata tidak ada nyala api yang belum habis membakar sisa harta Raihanah. Raihanah ada di sisi api itu dan kafilah pun menghampirinya.

Raihanah pun menceritakan kepada kafilah itu segala apa yang telah terjadi dan yang dilakukan oleh badai serta api dengan tak kenal belas kasihan, telah membakar gubuk dan ternaknya hingga menjadi arang.

Kafilah itu tidak segera pergi dari situ. Mereka kemudian beristirahat, makan dan minum bersama-sama Raihanah dan memuji kepada Allah atas keselamatan wanita itu. Juga berterimakasih atas keterangannya, bahkan kagum atas ketabahan yang dimiliki Raihanah.

Kemudian, mereka memutuskan takkan pergi dari situ sebelum membangun sebuah rumah. Biarlah rumah itu menjadi tempat persinggahan para musafir yang lewat.

Akhirnya, pemimpin kafilah itu meminang Raihanah dan memperistrinya. Hari demi hari, di sekeliling rumah mereka dibangun rumah-rumah baru. Tanah-tanah disekitarnya ditanami berbagai macam tanaman dan buah-buahan. Penduduk pun semakin banyak. Dan entah sudah berapa pemimpin dan raja yang menguasai daerah itu sampai saat ini. Orang sudah tak ingat lagi nama-nama mereka satu persatu. Tapi, nama Raihanah tetap bergema disana setiap saat. Orang datang dan pergi ke tempat itu, dan senantiasa mengucapkan kata Raihanah. Karena nama itu kini berubah menjadi nama tempat, dimana wanita tadi pernah hidup, yaitu Wahah Rainah, sebuah tempat peristirahatan yang nyaman di tengah padang pasir yang panas meradang, menjadi kerinduan setiap pengunjung yang menginginkan kesejukan. Dan siapapun yang pernah mendengar kisah tempat itu atau lewat disitu, ia pasti memuji dan berdoa untuk kesejahteraan pemilik nama aslinya, Raihanah, dan mengenangnya sebagai manusia teladan.

(Kisah-kisah teladan sepanjang sejarah Islam/Ir. Abdur Razaq Naufal)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Juni 2015 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s