RSS

Tawakal yang Sebenarnya

05 Jul

Diriwayatkan dari Syafiq Al-Balkhi, bahwa ia mengatakan, “Ketika aku pergi ke Mekah, di tengah jalan aku melihat seseorang yang lumpuh terduduk di atas tanah. Lalu aku menegurnya,” Dari manakah engkau datang?”

“Dari Samarkand,” Jawabnya.

“Sudah berapa lamakah engkau berjalan?”

Dia katakan, “Lebih dari lima tahun.”

Aku pandangi orang itu sambil terheran-heran, sampai dia menegurku, “Kenapa kau melihat padaku terheran-heran seperti itu?”

Aku menjawab, “Karena aku lihat engkau begitu dha’if, telah menempuh perjalanan sekian jauhnya.”

“Sedang jauhnya perjalanan,” katanya, “Maka, rasa rindulah yang mendekatkannya, sedang tubuhku yang dha’if, maka Tuhanlah yang membawanya. Masih herankah kau bila seorang hamba yang dha’if dibawa pergi jauh oleh Tuhan Yang Maha Lathif?”

Masih ada kaitannya dengan perjalanan ke Mekah juga, bahwa seseorang ketika menuju ke sana, melihat seorang anak yang tengah shalat, jauh dari jalan yang biasa dilalui rombongan-rombongan berunta. Orang itu menunggu sampai dia mengakhiri shalatnya. Kemudian menyalaminya dan bertanya, “Adakah kawan yang menghiburmu?”

Anak itu menangis, tetapi kemudian menjawab, “Ya.”

“Mana dia?” tanya tamunya.

Anak itu menjawab, “Dia ada di depanku, di belakangku, di sebelah kanan dan kiriku.”

” Adakah kamu membawa bekal?” tanya orang itu lagi.

“Ya,” jawabnya. Dan ketika ditanya, “Mana?” Maka jawabnya, “Dalam hatiku terdapat keikhlasan kepada Tuhanku.”

Lalu, laki-laki itu menawarkan jasanya, “Bolehkah aku menemanimu?”

Namun dijawab, “Seorang teman bisa mengganggu ingatan kepada Allah, dan aku tidak mau seorang pun mengganggu aku dari mengingat Allah.”

Laki-laki itu masih juga mencoba. Disodorkan olehnya sedikit perbekalan yang ia bawa, lalu diberikannya kepada ahli ibadah itu, seraya katanya, “Buat bekal makananmu.” Tetapi ia menolak, bahkan katanya, “Tuhan yang telah memberi makan kepadaku dalam kegelapan perut ibuku semasa aku bayi, pasti menjamin rejekiku dikala aku tua.”

Laki-laki itu hendak pergi ketika kemudian ia meminta didoakan oleh ahli ibadah itu kepada Allah. Dan permintaannya kali ini ia kabulkan, seraya mengucapkan salam perpisahan,

حَجَّبَكَ اللّهُ عََنْ كُلِّ مَعْصِيَةٍ، وَشَغَلَكَ بِمَا يُقَرِّبُكٌ إِلَيْهِ.

Semoga Allah menghalangi dirimu dari segala maksiat, dan menyibukkan kamu dengan perbuatan yang dapat mendekatkan kamu kepada-Nya.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 5 Juli 2014 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s