RSS

Wudhu Batin dan Shalat ‘Abid

04 Jul

‘Isham bin Yusuf pernah datang ke majelis pengajian Hatim Al-Asham. Setelah berbincang-bincang dan membicarakan beberapa hal yang berguna bagi mereka berdua maupun pendengar yang lain, waktu shalat pun tiba. Maka, semua yang hadir bersiap-siap hendak melakukan shalat. Mereka pergi berwudhu, yang dalam hal ini, Hatim tidak segera menyelesaikannya. Beberapa lama ia tetap berdiri tegak di depan air, tidak segera membasuh anggota-anggota tubuhnya. Sampai akhirnya ‘Isham bertanya padanya,

“Kenapa kau tidak segera menyelesaikan wudhumu, hai Abu Abdul rahman?”

Hatim menjawab, “Sesungguhnya, saya memulai dulu dengan wudhu batin.”

“Wudhu batin?!” pikir ‘Isham dengan terheran-heran, lalu bertanya, “Kenapa begitu?”

Hatim menerangkan, “Apabila saya berwudhu, maka yang saya lakukan ialah wudhu lahir dan wudhu batin, dan saya mulai terlebih dahulu dengan wudhu batin. Kalau wudhu lahir itu berupa membasuh anggota wudhu yang tujuh dengan air, yakni dua telapak tangan, mulut, hidung, wajah, dua lengan, kepala dan dua kaki. Maka, wudhu batin itu ialah membasuh bagian dalam dengan tujuh alat pembasuh, yaitu taubat, menyesal, tidak menyukai dunia, tidak ingin dipuji orang, tidak ambisi menjadi pemimpin, tidak menaruh dendam dan tidak mendengki orang.”

‘Isham sangat kagum mendengar keterangan sahabatnya itu, lalu berkata, “Kalau wudhumu saja sudah begitu, maka bagaimanakah dengan shalatmu?”

Jawab Hatim, “Apabila aku sudah berdiri tegak hendak melakukan shalat, maka selama anggota badanku aku kendurkan, sehingga aku dapat melihat Ka’bah dengan mata hatiku. Aku berdiri antara hajatku dan rasa takutku kepada Illahi. Aku mantapkan dalam hatiku bahwa Allah sedang mengawasi aku, sedang surga telah berada di sebelah kananku, dan neraka di sebelah kiriku, sementara malaikat maut sudah berada di belakang punggungku. Begitulah, bahkan, layaknya aku telah menapakkan kakiku di atas Shirat, dan aku pikir inilah shalatku yang terakhir kalinya. Barulah sesudah itu aku berniat, lalu membaca takbir sebaik-baiknya. Dalam shalat aku membaca surat seraya memahami artinya, lalu ruku’ dengan penuh kerendahan dan sujud dengan penuh kehambaan. Dalam tasyahud, aku tumpahkan seluruh harapanku, dan akhirnya aku ucapkan salam penuh keikhlasan.”

“Sejak kapankah engkau melakukan shalat dengan cara demikian?” tanya  ‘Isham.

Jawab Hatim sederhana saja, “Wudhu dan shalatku yang seperti itu, saya lakukan sejak aku menyadari bahwa aku hanyalah seorang makhluk, dan bahwa aku ada yang menciptakan. Kalaupun sekarang aku hidup, toh akhirnya pasti mati, kemudian aku dihisab, lalu aku disiksa atau diberi pahala. Tetapi, kalau yang kau tanyakan sudah berapa tahunkah saya berbuat demikian, maka hal itu baru tiga puluh tahun.”

‘Isham menangis mendengar penjelasan sahabatnya. Dan sejak itu, ia pun meniru-niru dengan melakukan wudhu batin dan melakukan shalat secara baik.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Juli 2014 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s