RSS

Bagaimana Pencuri-pencuri itu Bertaubat?

03 Jul

Sekawanan pencuri pada suatu malam ke luar untuk membegal sebuah kafilah yang kabarnya akan lewat di suatu jalan. Setelah mereka menunggu sekian lama, kafilah itu tidak lewat-lewat juga, sementara malam semakin larut. Kafilah itu tetap tidak mereka temukan jejaknya. Sudah pasti kafilah itu telah berlalu dengan aman hingga pagi, sedang para penjahat itu tak bisa lagi membuntutinya.

Para pencuri itu gagal, lalu pergi, dan tampaklah dari jauh sebuah rumah yang reot. Dari dalamnya memancar secercah sinar lampu. Rumah itu mereka datangi lalu diketuk pintunya sambil berkata, “Kami sepasukan pejuang fiisabilillah, baru pulang dari peperangan, tetapi kemalaman. Oleh karena itu, kami bermaksud hendak menginap sebagai tamu tuan-tuan.”

Tuan rumah itu menyambut dengan sebaik-baiknya. Mereka diberi kamar tersendiri, diberi pelayanan sebagaimana mestinya, bahkan sempat dihidangkan makanan seadanya.

Keluarga itu mempunyai seorang anak yang lumpuh akibat suatu penyakit hingga ia sama sekali tak bisa berjalan. Pagi hari, ketika tamu-tamu mereka pamit, maka bangkitlah ayah anak itu. Diambilnya bejana yang masih tersisa di dalamnya bekas air tamu-tamunya, sisa mandi mereka, seraya katanya pada istrinya, “Usaplah anak kita seluruh tubuhnya dengan air ini. Mudah-mudahan, ia dapat sembuh berkat para pejuang fiisabilillah itu. Air ini adalah sisa mandi dan wudhu mereka.”

Istrinya menurutinya. Sore harinya para penjahat itu kembali lagi bertamu ke rumah tadi, sehabis mencuri, membegal dan menggarong. Maksud mereka, sama seperti kemarin, ingin bermalam dan bersembunyi agar tidak ketahuan orang-orang yang memperhatikan gerak-gerik mereka. Namun, kali ini mereka melihat anak yang lumpuh itu ternyata sudah bisa berjalan tegak. Tentu saja mereka heran sekali, lalu bertanya kepada tuan rumah, “Benarkah anak ini yang kemarin dan pagi tadi kami lihat masih lumpuh?”

“Benar,” tegas tuan rumah. “Tadi saya ambil sisa air tuan-tuan, yakni kelebihan wudhu tuan-tuan. Lalu saya usap-usapkan ke tubuh anak itu. Dan dengan berkah dari tuan-tuan, kiranya Allah memberi kesembuhan padanya. Bukankah tuan-tuan ini para pejuang dan para pembela agama Allah?”

Mendengar itu, para penjahat itu menangis sejadi-jadinya. Lalu, kata mereka kepada tuan rumah, “Ketahuilah hai saudara, bahwa kami ini bukan para pejuang, tetapi kami ini pencuri dan perampok. Namun, Allah rupanya telah menyembuhkan anakmu berkat niatmu yang baik. Dan kami sekarang benar-benar taubat kepada Allah, taubat yang nashuh.”

Sesudah itu, mereka keluar untuk membagikan hasil curian mereka kepada orang-orang fakir dan kaum miskin. Mereka tidak ingin kembali lagi berbuat dosa dan berkata bohong. Bahkan, mereka kemudian pergi menggabungkan diri ke dalam barisan tentara kaum muslimin, sehingga benar-benar menjadi para pejuang fiisabilillah, seperti pengakuan yang dusta kepada penghuni rumah tadi.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 3 Juli 2014 in Kisah-kisah Teladan, Renungan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s