RSS

Tersenyumlah

26 Jun

Tertawa yang wajar itu laksana ‘balsem’ bagi kegalauan dan ‘salep’ bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Bahkan, karena itu Abu Darda sempat berkata, “Sesungguhnya aku akan tertawa untuk membahagiakan hatiku. Dan Rasulullah saw sendiri sesekali tertawa hingga tampak gerahamnya. Begitulah tertawanya orang-orang yang berakal dan mengerti tentang penyakit jiwa serta pengobatannya.”

Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita. Namun, yang demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan sebagaimana dikatakan dalam pepatah, “Janganlah engkau banyak tertawa, sebab banyak tertawa itu mematikan hati.” Yakni, tertawalah sewajarnya saja sebagaimana dikatakan juga dalam pepatah yang berbunyi, “Senyummu di depan saudaramu  adalah sedekah.” Bahkan, tertawalah sebagaimana Nabi Sulaiman ketika,

“… ia tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu.”
(QS. An-Naml: 19)

Janganlah tertawa sinis dan sombong sebagaimana dilakukan orang-orang kafir,

“… tatkala dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami dengan serta merta mereka menertawakannya.”
(QS. Az-Zukhruf: 47)

Dan salah satu nikmat Allah yang diberikan kepada penghuni surga adalah tertawa.

“Maka pada hari ini orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir.”
(QS. Al-Muthaffifin: 34)

Orang Arab senang memuji orang yang murah senyum dan selalu tampak ceria. Menurut mereka, perangai yang demikian itu merupakan pertanda kelapangan dada, kedermawanan sifat, kemurahan hati, kewibawaan perangai, dan ketanggapan pikiran.

Wajah nan berseri tanda suka memberi,
dan, tentu bersuka cita saat dipinta.

Dalam kitab “Harim”, Zuher bersyair,
kau melihatnya senantiasa gembira saat kau datang,
setelah engkau memberinya apa yang engkau minta padanya.

Pada dasarnya, Islam sendiri dibangun atas dasar prinsip-prinsip keseimbangan dan kemoderatan, baik dalam hal akidah, ibadah, akhlak maupun tingkah laku. Maka dari itu, Islam tak mengenal kemuraman yang menakutkan, dan tertawa lepas yang tak beraturan. Akan tetapi sebaliknya, Islam senantiasa mengajarkan kesungguhan yang penuh wibawa dan ringan langkah yang terarah.

Abu Tamam mengatakan,

“Demi jiwaku yang bapakku menebusnya untukku,
ia laksana pagi yang diharapkan dan bintang yang dinantikan.
Canda kadang menjadi serius,
namun hidup tanpa canda jadi kering kerontang.”

Muram durja dan muka masam adalah cermin dari jiwa yang galau, pikiran yang kacau, dan kepala yang rancau balau. Dan,

“Sesudah itu, dia bermuka masam dan merengut.”
(QS. Al-Muddatstsir: 22)

Wajah mereka cemberut karena sombong,
seolah mereka dilempar dengan paksa ke neraka.
Tidak seperti kaum, yang bila kau jumpai bak bintang gemintang
yang jadi petunjuk bagi pejalan malam.

Sabda Rasulullah: “Meski engkau hanya menjumpai saudaramu dengan wajah berseri.”

Dalam Faidhul Khathir, Ahmad Amin menjelaskan demikian. “Orang yang murah tersenyum dalam menjalani hidup ini bukan saja orang yang paling mampu membahagiakan diri sendiri, tetapi juga orang yang paling mampu berbuat, orang yang paling sanggup memikul tanggung jawab, orang yang paling tangguh menghadapi kesulitan dan memecahkan persoalan, serta orang yang paling dapat menciptakan hal-hal yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan orang lain.”

(Dikutip dari La Tahzan – Dr. Aidh Al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 26 Juni 2014 in Renungan

 

Tag: , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s