RSS

Dari Penguasa Menjadi Tukang Kayu

19 Jun

Ali ibn al-Makmun al-Abbasi (seorang penguasa anak Khalifah al-Makmun) tinggal di sebuah istana yang megah. Semua kebutuhan dunianya dia dapatkan dengan mudah. Suatu hari dia melongok ke arah luar dari balkon istana. Dia melihat seorang yang bekerja keras sepanjang hari. Menjelang siang dia berwudhu dan melakukan shalat dua rakaat di pinggiran sungai Tigris. Saat Maghrib tiba dia pulang kepada keluarganya.

Suatu hari sang pangeran memanggil orang itu dan menanyakan kondisi yang sebenarnya. Orang itupun menjawab bahwa dia memiliki seorang istri, dua saudara perempuan, dan seorang ibu yang harus ditanggung biaya hidupnya. Dia tidak memiliki makanan maupun pemasukan, kecuali dari apa yang dia dapatkan dari pasar. Dia juga berpuasa setiap hari dan berbuka setiap menjelang maghrib dari apa yang dia dapatkan.

Sang pangeran bertanya, “Apakah engkau mengeluhkan apa yang engkau alami ini?”

Jawab lelaki itu,” Tidak. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.”

Saat itu juga pangeran Ali meninggalkan istana, jabatan, dan kekuasaannya. Dia pergi menuruti langkah kakinya, dan ditemukan telah meninggal beberapa tahun setelah itu. Dia telah berubah menjadi seorang tukang kayu yang bekerja di wilayah Khurasan. Dia memilih pekerjaan itu karena dia mendapatkan kebahagiaan dalam pekerjaannya itu, yang tidak dia dapatkan di dalam istana.

“Dan, orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.”
(QS. Muhammad: 17)

Kisah ini mengingatkan kepada Ashabul Kahfi yang berada di dalam istana bersama seorang raja. Namun mereka tertekan, bingung, dan terganggu, karena kekufuran telah menjangkiti istana. Akhirnya, mereka pun memutuskan untuk pergi meninggalkan istana. Salah seorang dari mereka berkata,

“Maka, carilah tempat berlindung ke dalam gua itu niscaya Rabb-mu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.”
(QS. Al-Kahfi: 16)

Sungguh rumah yang diterpa angin lebih indah bagiku,
daripada istana yang demikian megah.
Lubang jarum ketika bersama teman-teman tercinta
akan terasa seperti medan nan luas.

Artinya, tempat yang sempit namun di dalamnya ada cinta, iman, dan kasih sayang akan terasa luas dan akan mampu memuat banyak orang:
Mangkuk besar kami terhadap tamu-tamu menjadi demikian lebar.

(La Tahzan-Dr. Aidh Al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Juni 2014 in Renungan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s