RSS

Pahit

18 Mar

Suatu hari Nasrudin mengeluh pada istrinya, Shakila: “Dulu, waktu baru nikah, setiap kali saya pulang ke rumah, kau membawakan sandal saya dan anjing kita menyambut dengan gonggongan. Kini terbalik, anjing kita yang membawakan sandal, dan kau yang menggonggong.”

Mendengar kegusaran suaminya, Shakila tak kalah tangkas menangkis: “Jangan mengeluh suamiku, bagaimanapun engkau tetap mendapatkan pelayanan yang sama, ada yang membawakan sandal dan ada yang menggonggong.”

Menyelaraskan keinginan memang tak mudah. Ada unsur waktu, ada rasa pakewuh. Tapi, begitu watak asli terkuak seiring dengan rasa bosan yang muncul, kecerewetan, ketidaksabaran, dan ketidak bersahajaannya pun mencuat.
Begitulah manusia. Cenderung menyukai mengenakan topeng khususnya bila urusan duniawi jadi tujuan pokok.

Mungkin, topeng itu pula yang membuat kita sering terkecoh. Kita suka melihat yang tampak, bukan bagian yang “dalam”. Kita cenderung mencuatkan ego.

Begitulah jika manusia menekankan keinginan sendiri tanpa menimbang perasaan orang lain. Hatinya kopong. Kesetiaan, penghormatan, perhatian kepedulian, keadilan, kejujuran, semua ditentukan melalui kualitas hati. Tanpa hati yang jernih, seseorang akan sulit menyatakan terima kasih, apalagi berbagi kasih.

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Maret 2014 in Renungan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s