RSS

Ketenangan Hati Hanya Ada di Surga

04 Mar

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.”  (QS. Al-Balad: 4)

Ahmad ibn Hanbal pernah ditanya, “Kapan ketenangan itu?”

Jawabnya, “Jika kamu menginjakkan kakimu di surga, maka kamu akan merasakan ketenangan.”

Tidak ada waktu istirahat sebelum di surga. Yang ada di dunia ini hanyalah gangguan, kebisingan, fitnah, peristiwa-peristiwa mengerikan, musibah, dan bencana: sakit, kesedihan, kegundahan, kedukaan, dan putus asa.

Dunia diciptakan penuh dengan ujian,
dan kau menginginkannya bersih dari musibah dan ujian.

Seorang teman yang pernah belajar di Nigeria –seorang yang penuh amanah– mengabarkan kepada saya bahwa ibunya selalu membangunkannya pada sepertiga akhir malam. Katanya, “Wahai ibu, saya ingin ketenangan sebentar.”

Jawab ibunya, “Saya tidak membangunkanmu kecuali agar engkau bisa tenang. Wahai anakku, jika engkau telah masuk surga, maka tenanglah (engkau di sana).”

Masruq –salah seorang ulama salaf– pernah tertidur sambil sujud. Keunikan Masruq ini mengundang pertanyaan teman-temannya, “Apakah engkau sedang menenangkan jiwamu?”

Jawab Masruq, “Saya ingin menenangkannya.”

Orang-orang yang memburu ketenangan dengan meninggalkan yang wajib, sesungguhnya mempercepat azab dalam arti yang sebenarnya. Ketenangan itu justru ada dalam pelaksanaan amal kebaikan dan manfaat yang menyeluruh, dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Orang-orang kafir menginginkan kehidupannya dan ketenangannya hanya di dunia. Oleh sebab itu mereka berkata,

“Ya Rabb kami, cepatkanlah untuk kami azab yang diperuntukkan bagi kami sebelum hari berhisab.”  (QS. Shad: 16)

Menurut sejumlah ahli tafsir, maksud ayat ini adalah, “Percepat bagian kebaikan dan bagian rezeki kami sebelum datangnya hari Kiamat.”

“Sesungguhnya, mereka (orang-orang kafir) menyukai kehidupan dunia.”  (QS. Al-Insan: 23)

Dan, mereka juga tidak pernah memikirkan hari esok, juga masa depan. Oleh sebab itu, pada hari ini maupun hari esok, dalam kerja maupun hasilnya, dan pada awal maupun akhirnya mereka merugi.

Demikianlah kehidupan itu diciptakan, ujungnya adalah kefanaan. Kehidupan adalah minuman kotor, yang merupakan campuran berwarna yang tidak pernah tetap, ada kenikmatan, ada kesengsaraan, ada tekanan, ada kelegaan, ada kekayaan, dan ada kemiskinan.

Kami keliling dan keliling,
kemudian semuanya yang kaya dan yang miskin teriak.
Dalam lubang yang paling bawah adalah lubang
dan yang paling atas adalah tanah nan datar.

Inilah akhir cerita mereka:

“Kemudian mereka (hamba Allah) dikembalikan kepada Allah, Penguasa mereka yang sebenarnya. Ketahuilah, bahwa segala hukum (pada hari itu) kepunyan-Nya. Dan Dialah Pembuat perhitungan yang paling cepat.”  (QS. Al-An’am: 62)

(Dikutip dari La Tahzan – Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Maret 2014 in Renungan

 

Tag: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s