RSS

Perbanyak Membaca dan Merenung

16 Feb

Berpengetahuan luas, menguasai banyak teori keilmiahan, berwawasan budaya, berpikir secara orisinil, memahami permasalahan dan argumentasi pijakannya, adalah sedikit dari sekian banyak faktor yang dapat membuat kelapangan di dalam hati.

“Sesungguhnya, yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”  (QS. Fathir: 28)

“Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahui dengan sempurna.”  (QS. Yunus: 19)

Orang yang berpengetahuan luas adalah orang yang berpikiran bebas dan berjiwa teduh.

Akan semakin luas dengan kontribusi yang diberikan,
dan akan semakin sempit ketika merasa cukup.

Seorang pemikir barat menyatakan, “Saya punya sebuah berkas besar di dalam laci kantor. Di bagian atasnya tertulis: ‘Kebodohan-kebodohan yang saya lakukan.’ Saya tuliskan semua kesalahan, keteledoran, dan hal-hal sepele yang saya lakukan pada siang dan malam hari, agar saya bisa membuang semua itu.”

Komentar saya, “Anda bukan orang yang pertama melakukan itu. Para ulama terdahulu dari umat Islam telah melakukan itu dengan ber-muhasabah secara mendalam dan mengontrol diri secara ketat.”

“Dan, aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).”  (QS. Al-Qiyamah: 2)

Hasan Al-Bashri mengatakan, “Orang muslim itu sangat ketat melakukan muhasabah terhadap dirinya sendiri, lebih ketat dibandingkan kontrol seorang pedagang terhadap mitra dagangnya.”

Rabi’ ibn Khutsaim selalu menulis apa yang dia ucapkan dari hari Jumat yang satu hingga hari Jumat berikutnya. Jika apa saja yang dia ucapkan selama seminggu itu baik, maka dia akan memuji Allah. Dan jika jelek, maka dia akan ber-istighfar.

Seorang ulama dari kalangan salaf pernah berkata, “Aku pernah melakukan dosa empat puluh tahun yang lalu, dan aku pun memohon kepada Allah agar mengampuniku. Dan, aku senantiasa memohon kepada-Nya ampunan (atas dosa yang selalu membayangiku itu hingga saat ini).”

“Dan, orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut.”  (QS. Al-Mu’minuun: 60)

(Dikutip dari La Tahzan – Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 16 Februari 2014 in Renungan

 

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s