RSS

Hari-hari Akan Terus Berputar

22 Jan

Diriwayatkan bahwa Ahmad bin Hanbal menjenguk Baqi’ ibn Mukhallad yang sedang terbaring sakit. Ahmad menyapa Baqi’, “Wahai Abu Abdur Rahman, bergembiralah dengan ganjaran yang Allah janjikan. Yakni, hari-hari sehat yang tidak akan ada sakit di dalamnya, dan hari-hari sakit yang tidak ada lagi kesehatan di dalamnya …”

Arti ungkapan itu. Di saat sehat tidak pernah terlintas dalam benak manusia tentang sakit. Hal ini menyebabkan keinginan manusia menjadi demikian kuat, cita-cita yang akan diraih makin banyak, ambisi yang hendak dicapai makin membesar, dan obsesinya kian tumbuh subur. Sebaliknya, sewaktu sakit keras tidak pernah terlintas dalam pikirannya tentang sehat. Hal ini membuat jiwa diliputi harapan yang tak berdaya, semangat yang terpenjara, dan putus asa yang menggejala.
Perkataan Imam Ahmad itu diambil dari firman Allah berikut ini,

“Dan, jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterimakasih. Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”, sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga. Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal salih, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”  (QS. Hud: 9-11)

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Allah Yang Maha Tinggi memberitahukan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada dalam diri mereka, kecuali mereka yang diberi rahmat, yakni hamba-hamba-Nya yang mukmin. Allah memberitahukan bahwa jika dia mendapatkan suatu kesulitan setelah adanya limpahan nikmat, maka dia akan segera menjadi putus asa dan patah semangat untuk mencapai kebaikan di masa depan. Pada saat yang sama ia mengingkari apa yang terjadi di masa lalu seakan-akan dia belum pernah melihat kebaikan dan seakan-akan tidak pernah mengharapkan jalan keluar.”

Demikian pula halnya, ketika mendapat limpahan nikmat setelah sebelumnya dililit bencana.

“Telah hilang bencana-bencana itu dariku.”  (QS. Hud: 10)

“Sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga.”  (QS. Hud: 10)

Ayat ini menjelaskan bahwa dia bangga dengan yang telah diraihnya, sombong dan selalu membanggakan diri kepada sesama.

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana) dan mengerjakan amal-amal salih, mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”  (QS. Hud: 11)

(Dikutip dari La Tahzan – Dr. ‘Aidh al-Qarni)

Posted from WordPress for Android

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Januari 2014 in Renungan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s