RSS

Jiwa Yang Merindukan Surga

29 Mei

Ketika Umar bin Abdul Aziz masuk rumahnya, didapatinya istri beliau menyajikan roti untuknya. Diam-diam istrinya itu sengaja membelikan roti tersebut untuk suaminya. Karena, neliau dilihatnya sangat letih bekerja, tertindih tugas dan kurus oleh zuhud.

Seperti kebiasaan yang senantiasa dilakukan, Umar menanyakan darimana segala sesuatu yang dilihatnya dalam rumah. Meski barang itu akan dibagikan kepada kaum muslimin sekalipun, tetap ditanyakan darimana asalnya, sehingga diketahui betul sumbernya, dan bagaimana cara penggunaannya yang terbaik.

Ringkasnya, tatkala Umar bertanya kepada istrinya tentang roti yang disajikan itu, roti apa dan darimana, beliau mendapat jawaban bahwa roti itu telah menarik seleranya. Maka, ingin rasanya ia memberikan sedikit untuk suaminya.

“Berapa harganya?” tanya Umar selanjutnya.
Istrinya menjawab, “Tiga setengah dirham.”
Umar bertanya pula, “Darimana uang sebanyak itu?”
“Saya menyimpannya untuk pengeluaran sehari-hari,” kata istrinya menerangkan.

Umar kemudian memanggil pembantunya, Muzahim. Beliau katakan padanya, “Hai Muzahim, kurangi biaya keluarga kami perbulan tiga setengah dirham. Karena kami masih bisa hidup dengan dikurangi sekian. Dan bawalah roti ini keluar, barangkali ada anak-anak yatim atau pengemis yang bisa kamu beri.”

Istri Umar merasa sayang kalau suaminya itu sampai tidak merasakan roti itu. Maka katanya, “Ambillah secuil itu untukmu ya Umar, secuil saja. Barangkali kelak hatimu menginginkan juga roti itu.”

Namun jawab Umar, “Demi Allah, saya memang punya hati yang sangat perindu. Tidak ada satu kedudukan yang dirindukannya, kecuali setelah didapat menginginkan pula kedudukan yang lebih tinggi lagi, dan hari ini ia telah merindukan pula kedudukan tertinggi yang tidak ada lagi kedudukan di atasnya. Hatiku sekarang, sesungguhnya sangat merindukan surga.”

Itulah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin yang lebih memperhatikan umatnya, lebih mementingkan fakir miskin dan anak-anak yatim daripada dirinya sendiri.

Bandingkan dengan pemimpin sekarang, yang tak ada puasnya menumpuk kekayaan, memperkaya diri sendiri.

 
 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s