RSS

Mempertahankan Persahabatan

22 Okt

Yunus bin Abdul A’la bercerita, pada suatu hari Imam Syafi’i r.a. berkata kepadaku :

“Wahai Yunus, jika engkau mendengar sesuatu yang engkau benci tentang sahabatmu, maka jangan tergesa-gesa untuk memusuhinya, memutus tali persahabatan, dan kamu menjadi orang yang telah menghilangkan suatu keyakinan dengan keraguan. Tetapi, temuilah dia! Dan katakan kepadanya, “Aku dengar, kamu melakukan ini dan itu …?” tentunya dengan tanpa memberitahukan kepadanya siapa yang memberi informasi kepadamu.

Jika ia mengingkarinya, maka katakan kepadanya,

“Kamu lebih jujur dan lebih baik”, cukup kalimat itu saja, dan jangan menambahi dengan kalimat apapun.

Namun jika ia mengakui hal tersebut, dan ia mengemukakan argumentasinya akan hal itu, maka terimalah.

Jika engkau tidak melihat itu, maka katakan kepadanya, “Apa sesungguhnya yang kau inginkan dari apa yang kudengar tentang dirimu?” Maka jika dia menuturkan sesuatu yang tampaknya ia minta dimaklumi, maka terimalah itu.

Tapi jika engkau tidak melihat hal tersebut, dan engkau merasa tidak nyaman dengan itu, maka ketika itu engkau tegaskan bahwa dia telah melakukan suatu keburukan, kemudian engkau punya pilihan; jika mau, engkau bisa memaafkannya dan maaf itu lebih dekat kepada taqwa serta merupakan kedermawanan yang luar biasa, sebagaimana firman Allah ta’ala :

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.”(Asy-Syuura’ 42 : 40)

Kalau dirimu terdorong untuk melakukan pembalasan, maka ingatlah kebaikan yang pernah ia lakukan untuk dirimu, dan jangan kau kurangi sisa kebaikannya yang lalu karena kesalahan yang ia lakukan, karena hal ini adalah merupakan bentuk kezhaliman terhadap dirinya sendiri.

Sungguh seorang lelaki saleh berkata,

“Semoga Allah merahmati orang yang membalas kejahatanku tanpa melebihinya, dan tidak mengurangi hak diriku.”

Wahai Yunus, jika engkau mempunyai seorang sahabat, maka peganglah ia dengan kedua tanganmu, karena sesungguhnya membina tali persahabatan itu tidak mudah, sedangkan memutuskannya adalah hal yang gampang.

Ada seorang lelaki saleh yang memberikan tamsil, bahwa orang yang mudah memutuskan tali persahabatan, bagaikan seorang anak kecil yang melemparkan batu ke dalam sumur, begitu mudah anak itu melemparkannya, namun betapa sulit bila pun lelaki dewasa yang mengeluarkan batu tersebut dari dalam sumur.

Inilah nasehatku, semoga keselamatan senantiasa menyertaimu.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 22 Oktober 2012 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s