RSS

Imbalan Puasa Orang Munafik

09 Agu

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” seperti biasanya Ustadz Amir memberi salam sebelum memulai pengajian.

“Wa alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab murid-murid serempak. Hari ini murid-murid yang datang ke pengajian Ustadz Amir lebih banyak dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, hari ini yang datang bertambah. Mudah-mudahan besok yang datang bisa lebih banyak lagi,” ujar Ustadz Amir tersenyum.

“Pengajian hari ini saya akan menceritakan sebuah kisah dari Hadist riwayat Muslim,” begitu Ustadz Amir membuka pengajian hari ini. Kemudian Ustadz Amir melanjutkan,

“Dari Abi Hurairah Ra. ia berkata: “Suatu hari Rasulullah Saw. bertemu dengan sejumlah sahabat beliau di Masjid Nabawi, Madinah, untuk membahas pelbagai hal. Kesempatan itu digunakan oleh salah seorang di antara mereka untuk bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita, pada hari kiamat kelak bisa melihat Tuhan kita?”
“Apakah kalian tidak merasa silau melihat matahari di tengah siang hari tanpa awan?” beliau balik bertanya. “Tidak, wahai Rasul,” jawab para sahabat yang hadir di situ.
“Apakah kalian tidak merasa silau melihat bulan purnama tanpa awan?” tanya beliau selanjutnya. “Tidak, wahai Rasul,” jawab mereka serempak.
“Demi Allah yang menguasai diriku,” ucap beliau,”kalian kelak tidak akan merasa silau melihat Allah Swt., seperti ketika melihat matahari atau bulan purnama.”
Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berbicara. Beberapa saat kemudian beliau melanjutkan ucapannya, “Kelak, Allah Swt. akan menemui seorang kafir, lalu Allah bertanya kepadanya, ‘Hai Fulan! Tidakkah ketika di dunia, Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu sebagai orang yang terhormat, menundukkan kuda dan unta untukmu, juga telah Ku-berikan kesempatan kepadamu untuk menjadi pemimpin dan hidup dalam kesenangan?’, ‘Memang benar, wahai Tuhan,’ jawab orang itu.
‘Kini, Ku-biarkan engkau tanpa rahmat-Ku sebagaimana engkau telah melupakan-Ku ketika engkau hidup di dunia!’ firman Allah kepada orang itu.

Kemudian, Allah menemui seorang kafir lain, lalu bertanya kepadanya, ‘Hai Fulan! Tidakkah ketika di dunia, Aku telah memuliakanmu, memberimu jodoh, menundukkan kuda dan unta untukmu, juga telah Ku-berikan kesempatan kepadamu untuk menjadi pemimpin dan hidup dalam kesenangan?’, ‘Memang benar, wahai Tuhan,’ jawab orang itu.
‘Apakah ketika di dunia engkau percaya bahwa engkau akan bertemu dengan-Ku?’ tanya Allah selanjutnya. ‘Tidak!’ jawab orang itu.
‘Kini, Ku-biarkan engkau tanpa rahmat-Ku sebagaimana engkau telah melupakan-Ku ketika engkau hidup di dunia,’ firman Allah kepada orang itu.
Setelah itu, Allah menemui seorang munafik dam mengajukan pertanyaan seperti apa yang ditanyakan kepada orang kafir tadi. Orang munafik itu menjawab, ‘Wahai Tuhan! Aku dulu di dunia beriman kepada-Mu, kepada kitab-Mu, kepada para rasul-Mu, dan aku juga melaksanakan shalat, puasa, zakat, serta memuji-Mu sebaik mungkin.’
‘Tetaplah engkau di sini! Kami telah mendatangkan saksi Kami kemari!’ perintah Allah. ‘Siapa yang akan menjadi saksiku?’ gumam orang munafik itu.
Allah kemudian mengunci mulut orang munafik itu, kemudian memerintahkan pada paha, daging, dan tulang orang munafik itu, ‘Bicaralah!’ Maka paha, daging, dan tulang orang munafik itu menuturkan perbuatannya sehingga dia tidak bisa berkutik. Itulah orang munafik yang dimurkai Allah!” ”

“Nah, itulah nasib orang munafik kelak sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Muslim,” kata Ustadz Amir seusai membacakan hadist tadi.

“Sekarang saya mau tanya, apa saja tanda-tanda orang munafik? Ada yang tahu?” tanya Ustadz Amir melanjutkan. Beberapa murid mengangkat tangannya.

“Kamu Amat, coba sebutkan tanda-tanda orang munafik?” kata Ustadz Amir kepada anak yang duduk paling pinggir.

“Tanda orang munafik ada tiga, yaitu: apabila dipercaya, ia berkhianat, apabila berbicara, ia berdusta dan apabila berjanji ia mengingkari.” jawab Amat.

“Benar, jadi sifat orang munafik itu, yang pertama jika dipercaya ia berkhianat. Yang kedua jika bicara, ia berdusta. Yang ketiga, jika berjanji ia mengingkari,” kata Ustadz Amir menjelaskan.

“Jadi kalau kita tak mau disebut orang munafik, jangan ada satupun sifat tersebut pada diri kita. Kalau kita dipercaya, diamanahkan sesuatu, baik itu pekerjaan, jabatan, ataupun titipan, jaga kepercayaan itu baik-baik. Sebab sekali kamu tak dipercaya, selamanya kamu takkan dipercaya. Kemudian jadilah kamu orang yang jujur, jangan berbohong. Sekali saja kamu berbohong, maka kamu akan terus berbohong untuk menutupi kebohonganmu sebelumnya. Dan kalau kamu berjanji harus kamu tepati. Jangan berjanji kalau kamu tak dapat menepatinya.” pesan Ustadz Amir kepada murid-muridnya.

“Nah, anak-anakku sekian dulu pertemuan kita hari ini, ingat pesan Ustadz tadi, jaga diri kalian, jaga puasa kalian jangan sampai bolong. Billahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 9 Agustus 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s