RSS

Benang Hitam dan Benang Putih

04 Agu

Setelah puasa di bulan Ramadan diwajibkan kepada kaum Muslim, bulan Ramadan menjadi bulan istimewa bagi mereka. Mereka begitu bersemangat menyambut bulan penuh berkah tersebut. Karena itu, mereka selalu berupaya menjaga diri agar melaksanakan ibadah tersebut tepat waktu. Namun, kala pertama kali diwajibkan, batas-batas waktu ibadah tersebut belum jelas benar.

Ketidak jelasan waktu berpuasa tersebut berakhir dengan turunnya ayat,

‘Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu, mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam … ‘(QS. Al-Baqarah: 187)

Begitu mengetahui ayat tersebut turun, Adi bin Hatim, seorang sahabat, sebelum malam tiba, menyiapkan benang hitam dan benang putih lalu meletakkannya di bawah bantal. Sepanjang malam, dia memandangi benang hitam dan benang putih yang berada di bawah bantal tersebut. Namun, dia gagal melihat perbedaannya. Hingga fajar terbit, dia tetap tidak bisa membedakan antara kedua benang tersebut. Sementara itu, beberapa sahabat lain, pada malam yang sama, mengikatkan benang hitam dan benang putih pada kaki mereka dan mereka tetap makan hingga mereka bisa membedakan kedua benang tersebut.

Keesokan harinya, mereka pun menemui Rasulullah SAW. untuk memberitahukan kepada beliau apa yang telah mereka lakukan. Mendengar penuturan mereka, Rasulullah SAW. pun tertegun-tegun. Sejenak beliau berdiam diri dan kemudian berkata, “Sahabat-sahabatku, maksud benang hitam adalah gelapnya malam, sedangkan benang putih adalah terangnya siang.”

Tidak lama kemudian, turun sambungan ayat tersebut,

‘… yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasamu hingga (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka sementara kamu sedang beritikaf di dalam masjid. Itulah larangan Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka bertaqwa.'(QS. Al-Baqarah: 187)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 4 Agustus 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s