RSS

Air Mendidih Tak Terasa Panas

02 Agu

Pada awal perjuangan Islam, tersebutlah sekelompok prajurit Muslim ditawan pihak Romawi setelah berkecamuk perang. Komandan pasukan Romawi berkata kepada sang kaisar, “Di antara tawanan, ada seorang prajurit yang amat gagah berani.”

“Bawalah kemari! Aku ingin melihatnya,” perintah kaisar Romawi.

Kaisar duduk di atas singgasana yang dihiasi dengan berbagai permata. Siapa saja yang datang menghadap kaisar, ia harus menunjukkan rasa hormat dengan membungkukkan badan layaknya ruku’. Si prajurit mengetahui tradisi penghormatan ala Romawi tersebut.

Tentu saja prajurit pemberani enggan membungkukkan badan kepada kaisar. “Aku tak akan pernah membungkukkan badanku untuk kaisar. Aku malu terhadap pemimpin Muslimin, Muhammad bin Abdullah, kalau aku menghadap kaisar Romawi dengan membungkukkan tubuh layaknya orang-orang kafir,” kata prajurit kepada pengawal kerajaan.

“Singkirkan permata ini agar orang Muslim itu datang menghadap kepadaku,” titah kaisar kepada para pengawal.

Para pengawal segera menjemputnya. Prajurit pemberani datang menghadap kaisar dengan berjalan tegap berwibawa. Lalu, kaisar bercakap dengan prajurit dan berkata, “Terimalah agama kami dan aku akan mengangkatmu sebagai gubernur di wilayah kekuasaanku. Aku juga akan memberimu banyak uang agar engkau dapatkan apa yang kau inginkan.”

Prajurit Muslim malah bertanya, “Seberapa luas negeri Romawi dibandingkan luas dunia?”

“Kemungkinan sepertiga atau seperempat dunia,” jawab kaisar.

“Jika engkau memenuhi dunia dengan emas dan permata dan memberikannya kepadaku sebagai ganti dari mendengarkan azan sehari saja, aku tidak akan menerima dunia semacam itu.”

“Apa azan itu? Apa maksudmu?” tanya kaisar.

“Di antara kalimat azan adalah ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah’.”

“Kecintaan kepada Muhammad telah mengakar kuat dalam hati pria Muslim ini. Aku yakin saat ini tidak mungkin ia akan meninggalkan agamanya,” pikir kaisar.

Kaisar tak kehabisan akal untuk membuat si prajurit menjadi kafir. Diperintahkannya kepada para pengawal untuk menyiapkan sebuah bejana besar penuh air untuk dididihkan. Kaisar hendak merebus prajurit yang berani tersebut.

Para pengawal mengikat dan memasukkan prajurit ke dalam bejana saat air mulai mendidih. Sebelum masuk ke dalam air mendidih, prajurit Muslim mengucapkan ‘Bismillah ar-Rahman ar-Rahim’.

Maha Suci Allah, walaupun direbus dalam air yang sangat panas, dengan kuasa-Nya, prajurit bisa selamat hingga air bejana habis. Semua orang yang menyaksikan begitu heran dan merasa takjub.

Akan tetapi, peristiwa itu tak menyurutkan niat si kaisar. Terjadilah tawar-menawar antara kaisar Romawi dan prajurit Muslim.

“Bersujudlah kepadaku dan aku akan membebaskan dirimu dan semua tawanan,” bujuk kaisar.

“Dalam ajaran agamaku, tidak dibenarkan bersujud kepada selain Allah,” jawab prajurit.

“Kalau begitu ciumlah tanganku dan aku pasti akan membebaskan dirimu dan juga teman-temanmu itu,” kata kaisar.

“Tidak dibenarkan mencium tangan selain mencium tangan ayah atau raja yang adil, seorang yang alim, atau guru,” jawab prajurit.

“Jika demikian, ciumlah keningku agar aku bebaskan kalian semua,” kata kaisar kembali.

Demi membebaskan diri dan para tawanan, prajurit berniat membalas kejahatan dengan kecerdikan.

“Aku bersedia melakukannya, tetapi dengan satu syarat,” ujarnya.

“Lakukanlah sesuka hatimu,” kata kaisar.

Lalu, dilepaslah tali pengikat badan prajurit. Segera ia berjalan menuju kaisar di atas singgasana. Kaisar sudah siap untuk dicium prajurit Muslim. Dengan cerdik, prajurit meletakkan sehelai kain di atas kening kaisar dan mencium kain seolah mencium kening kaisar.

Kaisar Romawi menepati janji. Ia membebaskan semua tawanan Muslim termasuk prajurit pemberani yang cerdik. Kaisar membekali para tawanan dengan harta yang cukup banyak sebagai hadiah. Kaisar menulis surat kepada pemimpin kaum Muslimin. “Jika pria ini berada di negeri kami dan meyakini agama kami, bukan hanya menyembah, melainkan kami akan mengabdikan diri kepadanya sampai mati.” Begitu kata kaisar dalam suratnya.

(Dari: Kisah-kisah Bismillah; penulis: Ahmad Mir Khalaf Zadeh dan Qasim Mir Khalaf Zadeh; penerjemah: Ibnu Alwi Bafaqih; penerbit: Qarina, Jakarta)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 2 Agustus 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s