RSS

Remeh dalam Pandanganmu Berat di Sisi Allah.

08 Jul

Amirul Mu’minin, Umar bin Khattab Ra. tak pernah membiarkan sesuatu yang menyangkut dirinya, betapa pun kecilnya, tanpa beliau perhitungkan dirinya terlebih dahulu. Kalau dipandang, perkara itu baik dan halal sepenuhnya, barulah beliau mau melakukan. Tetapi, kalau sulit diterima atau meragukan (syubhat), karena dirasa mengandung keburukan, maka beliau tinggalkan seraya memohon ampun kepada Allah.

Suatu saat, Umar bin Khattab menyewa kendaraan untuk pergi menjenguk seseorang yang sedang sakit. Umar Ra. memiliki tubuh tinggi semampai. Oleh sebab itu, ketika kendaraan itu ia naiki, lantas berjalan, sorban yang diletakkan di bahunya tersangkut pada ranting pohon tanpa beliau rasa, karena begitu asyiknya, hanyut dalam tasbin dan zikir kepada Allah. Sampai, ada seseorang yang menghentikan beliau di jalan, lalu memberitahukan dan menunjuk ke arah pohon yang telah menyangkut sorban beliau.

Umar pun turun dari kendaraannya, dan dititipkan kepada laki-laki yang menegur tadi seraya meminta tolong. Katanya, “Tunggulah kendaraan itu, saya akan pergi ke pohon itu untuk mengambil sorban saya.”

Tanpa menunggu jawaban dari lelaki tadi, Umar cepat-cepat pergi ke arah pohon itu berjalan kaki, kemudian kembali lagi membawa sorbannya. Lelaki itu heran melihat kelakuan Umar, lalu katanya, “Ya Amirul Mu’minin, kenapa tidak tuan naiki saja kendaraan tuan untuk pergi ke pohon itu, lalu kembali, atau biarlah saya saja yang pergi mengambilkannya?”

“Kalau kamu yang pergi mengambilkannya, itu tak perlu,” kata Umar, “Sebab itu bukan sorbanmu, dan kamu pun bukan buruhku, kenapa saya harus menyuruhmu. Sedang kalau saya pergi ke pohon itu dan kembalinya dengan tetap naik unta, maka ketika saya menyewa unta itu dari pemiliknya, sebenarnya untuk pergi dari rumahku sampai tujuanku. Dalam permufakatan, tak ada perjanjian bahwa kendaraan itu akan saya pakai balik lagi beberapa langkah, lalu meneruskan perjalanan.”

Mendengar jawaban Umar, laki-laki itu lebih heran lagi dibanding tadi, ketika melihat perbuatan Umar, “Bukankah itu remeh sekali, ya Amirul Mu’minin”, katanya, “baik bagi kendaraan itu sendiri maupun bagi pemiliknya?”

Mendengar itu Umar marah, lalu berkata kepada lelaki itu, “Hai orang yang sesat menyesatkan, tidak pernahkah kau dengar firman Allah SWT:
و تحسبونه هينا و هو عند الله عظيم ،

Dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja, padahal dia pada sisi Allah adalah besar.

.

Disalin dari: Kisah-kisah Teladan Sepanjang Sejarah Islam, oleh: Ir. Abdul Razaq Naufal, penerbit: Husaini Bandung.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 8 Juli 2011 in Kisah-kisah Teladan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s