RSS

Antara Lilin dan Lampu Minyak

25 Mar

Pada suatu malam, Umar bin Abdul Aziz kedatangan utusan dari salah seorang pegawainya. Ketukan pintu utusan itu disambut oleh seseorang dari dalam rumah khalifah.

“Beritahukan kepada Amirul Mu’minin,” kata tamu itu padanya, “Bahwa di pintu ada utusan dari salah seorang pegawainya.”

Begitu Amirul Mu’minin diberitahu, padahal beliau sudah bersiap-siap hendak tidur, maka bangkitlah beliau lalu lari, dan katanya, “Izinkan dia masuk, sesungguhnya keperluan orang lebih utama daripada tidurku.”

Utusan itu masuk, sementara Umar meminta sebuah lilin besar untuk menyalakan api.

Umar dan tamunya pun duduk bersama, dan mulailah Amirul Mu’minin menanyainya tentang keadaan rakyat di negeri sana, beberapa orang Islamnya dan beberapa warga lainnya, bagaimana pula sikap para pejabat terhadap rakyat. Beliau tanyakan pula tentang harga barang-barang, dan bagaimana anak-anak para sahabat Muhajirin dan Anshar, para musafir dan kaum fakir. Dan apakah setiap orang sudah mendapat hak sebagaimana mestinya. Adakah orang yang mengadu atau yang teraniaya. Semua pertanyaan itu dijawab dan diberitahukan kepada Amirul Mu’minin, tentang semua yang diketahui utusan itu dalam hal keadaan negerinya.

Dan setelah Umar selesai mengajukan pertanyaannya, maka bergantilah sekarang utusan itu yang bertanya, “Ya Amirul Mu’minin, dan bagaimanakah keadaan tuan lahir-batinnya, bagaimana keluarga tuan seisi rumah, dan siapa saja yang menjadi tanggungan tuan?”

Tiba-tiba, Umar bin Abdul Aziz meniup lilin yang menyala itu hingga padam, lalu katanya memanggil pembantunya,

“Ya Ghulam! Ambilkan lampu minyak!”

Pembantunya segera datang menghampiri sambil membawa sebuah lampu dengan nyala yang sangat kecil, hampir tidak bersinar. Kemudian Umar berkata kepada tamunya, “Bertanyalah sesukamu, akan aki jawab.”

Tamu itu heran sekali karena Umar memadamkan lilin, kemudian meminta lampu minyak yang hampir tidak bersinar itu. Keheranan itu kemudian dijawab oleh beliau.

“Hai hamba Allah, sesungguhnya lilin yang kamu lihat tadi saya padamkan, karena kepunyaan Allah, termasuk harta milik umat Islam. Dan saya tadi bertanya kepadamu tentang kebutuhan-kebutuhan mereka dan apa saja yang menyangkut mereka. Dan untuk itu, lilin tadi masih menyala di depanku untuk kepentingan mereka. Karena lilin itu memang milik mereka. Kemudian ketika kamu beralih menanyakan tentang keadaanku dan keluargaku, maka saya padamkan api milik umat Islam itu, lalu saya nyalakan lampu minyak yang saya beli dengan hartaku sendiri.”

(Dari: Kisah-kisah Teladan Sepanjang Sejarah Islam; Oleh: Ir. Abdul Razaq Naufal)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 25 Maret 2011 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s