RSS

Ada Hidup, Ada Rezeki

21 Mar

Seorang petani yang saleh sedang bekerja di sawahnya. Hasil sawahnya itu, biasanya ia bagi tiga. Sepertiga ia sedekahkan, sepertiganya lagi ia tanam lagi di sawahnya. Sedang sepertiga sisanya ia bagi lagi dalam bagian yang sama, hingga mencukupi dirinya dalam setahun. Dengan cara seperti itu, ia rela menerima nasibnya, merasa puas dengan rezeki yang dianugerahkan Tuhan padanya, dan yakin bahwa dengan perbuatannya itu ia akan tergolong muqorrobin, yang didekatkan Tuhan.

Namun, pada suatu musim panen, ternyata hasil sawahnya berkurang. Bagian yang biasanya dipersiapkan untuk mencukupi dirinya, tidak mencapai ukuran seperti biasanya setiap tahun, hingga diperkirakan takkan cukup untuk makan setahun. Bahkan, kekurangan itu mencapai seperempatnya. Maka, tak mungkin ia kurangi bagian yang akan ia tanam lagi di sawah. Akan tetapi… haruskah ia curi saja hak Allah yang mesti diberikan kepada orang-orang fakir, sebagai suatu kewajiban yang tak bisa ditawar-tawar, yang sudah diatur-Nya?

Seusai shalat, ia berangkat hendak meminta saran orang lain. Lalu, ditemuinya seseorang yang senantiasa tinggal di masjid, tak pernah kemana-mana, karena lumpuh tak bisa bekerja, sehingga berniat akan menghabiskan sisa umurnya semata buat beribadah. Kepada orang itulah petani saleh tadi hendak menanyakan, bagaimana cara menghadapi problema yang dihadapinya.

Ahli ibadah itu lalu menyarankan, “Nanti malam, berangkatlah kamu membawa makanan yang cukup untuk sepuluh orang yang kelaparan, dan pergilah ke sebuah rumah,” demikian kata ahli ibadah itu sambil menyebut nama suatu tempat. “Sesampai di sana, ketuklah pintu, lalu berikan makanan yang kamu bawa kepada penghuni rumah itu. Mereka adalah orang-orang fakir dan anak-anak yatim. Setelah itu, tanyalah kepada mereka, jawaban dari pertanyaanmu tadi. Jawaban itu pasti akan kamu dapati dari mereka.”

Sore hari, petani saleh itu sudah berangkat menuruti saran ahli ibadah di masjid tadi, sambil tak lupa membawa makanan sebagaimana dipesankan. Ia berjalan menuju tempat yang ditunjukkan oleh ahli ibadah, yang ternyata sebuah rumah kecil, yang dengan sekilas saja sudah dapat diterka, penghuninya pasti fakir miskin yang sangat membutuhkan pertolongan. Maka, diketuknyalah pintu rumah itu, dan keluarlah seorang ibu berpakaian rapat.

Ia bertanya kepadanya dengan ramah, “Siapa anda ini?”

“Saya datang membawakan makanan untuk anak-anak ibu,” kata petani saleh.

“Alhamdulillah,” kata wanita itu, “mereka sudah tidur.”

“Kalau begitu, biarlah makanan ini ibu berikan kepada mereka besok pagi,” petani saleh menyarankan. Tapi apa kata wanita itu?

Ia menukas, “Apa jaminan anda bahwa mereka akan hidup sampai besok?”

“Insya Allah, mereka akan hidup,” demikian jawab petani saleh sekehendaknya, setelah menguasai keterperanjatannya.

Tetapi, wanita itu menerangkan, “Sesungguhnya Allah yang menetapkan hidup bagi mereka itulah yang akan menetapkan pula rezeki mereka. Akan tetapi, saya sendiri tak bisa mendahului ilmu Allah. Kenapakah saya mesti mempersiapkan makanan buat mereka? Allah sendirilah Yang Maha Tahu, apakah mereka masih berhak mendapat makanan atau tidak.”

Namun demikian, petani saleh itu masih memaksakan agar makanan yang ia bawa diterima, tetapi wanita itu tetap menolak. Bahkan kemudian ia menegaskan, “Betapa besar dosa yang harus aku pikul, bila makanan ini saya simpan sampai anak-anakku bangun tidur, padahal di sana masih banyak orang lain yang lebih membutuhkannya. Di setiap tempat di negeri-negeri kaum Muslimin, bahkan mereka tak bisa tidur karena kelaparan.”

(Dari: Kisah-kisah Teladan Sepanjang Sejarah Islam; Oleh: Ir. Abdul Razaq Naufal)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Maret 2011 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s