RSS

Abu Nawas Menjadi Raja Dadakan

19 Mar

Alkisah, Sultan Harun Al-Rasyid berang. Beliau tidak melihat batang hidung Abu Nawas di balairung pagi itu, padahal petinggi negara sudah hadir, leng,kap malah.

“Hai hambaku, panggil olehmu Abu Nawas sekarang juga,” perintah Sultan.

Setelah berdatang sembah, berangkatlah hamba itu ke rumah Abu Nawas. Kebetulan Abu Nawas ada di rumah, pagi itu ia tengah mengaji.

“Tuan Abu Nawas,” kata hamba raja itu. “Tuan hamba dipanggil oleh Duli Yang Dipertuan ke istana.”

“Mengapa Baginda memanggil aku?” tanya Abu Nawas.

“Entahlah, hamba tidak tahu,” jawab si hamba. “Tapi hamba disuruh memanggil Tuan hamba sekarang juga, karena Duli Syah Alam sudah lama menanti Tuan hamba.”

“Baiklah,” jawab Abu Nawas. Dan bergegaslah ia ke istana diiringi hamba raja di belakangnya.

“Hai Abu Nawas,” kata Baginda begitu melihat Abu Nawas berdatang sembah kepadanya. “Mengapa kamu tidak datang menghadap kepadaku?”
“Ampun beribu ampun,” jawab Abu Nawas. “Hamba sedang sibuk, di rumah banyak pekerjaan.”

Baginda bertanya, “Aku ingin tahu, hari ini apa yang dilakukan Allah Ta’ala, bintang di langit berapa jumlahnya, dan di mana letak pusat bumi kita ini?”

Sembah Abu Nawas. “Mohon ampun ke bawah Duli Syah Alam. Insya Allah sedapat-dapatnya hamba akan memberi jawaban. Tetapi lebih dahulu perkenankan hamba mengajukan permintaan kepada Paduka. Apabila pertanyaan Baginda tidak boleh dijawab di sembarang tempat, bila Baginda berkenan, silakan Baginda turun dari tahta kira-kira setengah saat saja dan perkenankan hamba duduk di situ.”

Syahdan Baginda turun dari singgasananya dan segera diduduki oleh Abu Nawas.

“Hai Abu Nawas, sekarang jawablah pertanyaanku tadi,” perintah Baginda

“Adapun pada hari ini,” jawab Abu Nawas, “pada saat ini dan detik ini, inilah yang dilakukan Allah Ta’ala, yaitu menurunkan Tuanku dari singgasana dan menaikkan hamba yang hina ini ke tempat Syah Alam. Jika Tuanku ingin tahu jumlah bintang di langit, harap Tuanku bersedia menghitung bulu kulit kambing ini.” Berkata begitu Abu Nawas sambil menyodorkan sehelai kulit binatang tersebut. “Kalau jumlahnya tidak sama dengan jumlah bintang di langit, silakan bunuh hamba.”

“Siapa yang mampu menghitung bulu kambing?” tanya Baginda.

“Bintang di langit itu pun demikian juga, Tuanku. Siapa yang bisa menghitungnya kecuali Allah Ta’ala,” kilah Abu Nawas.

“Dimana letak pusat bumi kita ini. Lekas jawab,” gertak Baginda.

“Baiklah, Tuanku Syah Alam,” jawab Abu Nawas sambil meraih tombak dari tangan punggawa. Kemudian tombak itu ditancapkan di depan Baginda. “Inilah, Tuanku, pusat dunia kita, tidak akan salah lagi. Apabila Tuanku tidak percaya, silakan Baginda menyuruh rakyat mengukur panjangnya ke barat dan ke timur.”

“Siapa orangnya yang mampu mengukur itu?” tanya Baginda.

“Itulah sebabnya hamba menunjuk titik ini sebagai pusat dunia kita,” kata Abu Nawas lagi.

Demi mendengar perkataan itu, semakin bertambah kagumlah Sultan kepada Abu Nawas.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 Maret 2011 in Kisah-kisah Teladan, Selingan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s