RSS

Ketika Joha Kebingungan

18 Mar

Suatu hari, Nasruddin Joha dan seorang putranya hendak pergi ke pasar. Ia naik keledai, sementara putranya berjalan kaki di sampingnya. Dalam perjalanan, ketika melewati kerumunan manusia, banyak orang mengawasinya dengan wajah keheranan.

“Dasar orangtua tidak punya perasaan! Masak ia enak-enakan naik keledai, dan tega membiarkan putranya berjalan kaki!” kata mereka.

Mendengar cemoohan itu, Joha pun turun. Ia menyuruh anaknya untuk naik ke atas keledai dan ia memilih berjalan kaki di sampingnya. Namun ketika melewati khalayak ramai lagi, banyak orang memandangnya dengan sinis.

“Dasar anak kurang ajar! Masak ia enak-enakan naik keledai sementara ayahnya yang sudah tua berjalan kaki di sampingnya!”

Mendengar celoteh demikian, Joha menyuruh putranya turun dan mengajaknya untuk berjalan kaki bersama-sama. Tetapi, pada saat yang ketiga kalinya ia melewati kerumunan manusia, orang-orang melihatnya dengan heran. Mereka saling berbisik satu sama lainnya.

“Lihat, itu tidak masuk akal! Masak mereka membiarkan keledai itu berjalan begitu saja tanpa dinaiki?! Dasar tolol!!!”

Joha pun mengajak putranya untuk sama-sama naik ke atas punggung keledai. Dan ketika untuk yang keempat kalinya mereka berdua melalui kerumunan manusia lagi, orang-orang melihat mereka berdua keheranan. Seperti ada yang aneh di raut wajah mereka. Mereka pun saling berbisik satu sama lainnya.

“Ayah dan putranya sama-sama tolol. Masak seekor keledai yang lemah tega dinaiki berdua?! Dasar tidak punya rasa kasihan terhadap binatang!”

Mendengar celoteh yang menyakitkan, Joha dan putranya pun kembali turun dari punggung keledai. Kemudian mereka berdua memanggulnya sambil terus membawanya berjalan. Beberapa anak kecil yang melihat pemandangan lucu tersebut, tentu saja tertawa terpingkal-pingkal.

Joha benar-benar bingung. Ia sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Semua yang dilakukannya serba salah. Dan, ketika melewati sebuah jembatan kecil, tanpa pikir panjang ia melemparkan keledainya ke sungai. Selanjutnya ia dan putranya meneruskan perjalanan ke pasar dengan berjalan kaki.

Dalam kisah yang tertulis dalam buku Tertawa bersama Joha, karya Muhammad Sa’id Abdul Ghani itu, ditekankan betapa sifat keragu-raguan itu sangat merugikan seseorang. Sifat ini dapat menjebak seseorang untuk mengambil sikap dari yang benar dan tepat menjadi keliru dan salah. Rasulullah Saw. bersabda, “Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

(Majalah Hidayah edisi Maret 2005)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 18 Maret 2011 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s