RSS

Yang Kikir dan Yang Pemurah

17 Mar

Dalam suatu riwayat, suatu hari ada seorang lelaki duduk bersama istrinya mengadakan hidangan makan. Agaknya, mereka baru saja menyembelih seekor ayam, lalu dipanggang, dan kini bersemayam di atas meja, di samping hidangan lainnya yang memenuhi meja makan yang meriah itu.

Saat mereka sedang menikmati hidangan, datanglah seorang pengemis, berdiri di depan pintu, meminta sekadar pemberian. Keluarlah laki-laki itu, dibentaknya pengemis yang papa itu, lalu disuruhnya pergi jauh.

Hari demi hari, laki-laki kikir itu akhirnya berkurang hartanya, ekonominya semakin berantakan, sampai habis sama sekali. Bahkan, istrinya ia ceraikan, lalu ia pergi menjadi gelandangan. Perceraian dengan istrinya adalah karena mereka merasa tidak cocok. Sang istri tidak menyetujui suaminya bersikap kikir dan kufur terhadap nikmat Allah. Maka, diceraikanlah wanita itu. Tetapi untung baginya, karena kemudian ia mendapatkan suami yang lebih kaya dan lebih terhormat dari suaminya yang pertama.

Demikianlah ketika kedua suami istri itu duduk hendak makan, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. Suaminya keluar, lalu kembali dan menyuruh istrinya memberikan ayam panggang yang belum sempat mereka makan kepada pengemis di depan itu. Namun, tiba-tiba wanita itu menangis.

“Kenapa kamu tiba-tiba menangis?” tanya si suami, yang oleh istrinya dijawab, bahwa pengemis itu tak lain adalah bekas suaminya dulu, sebelum menikah dengan yang sekarang. Laki-laki itu, suatu hari pernah menghardik seorang pengemis yang meminta bantuan makan.

Wanita itu lebih terperanjat lagi ketika suaminya yang sekarang malah mengaku, “Demi Allah, pengemis yang ia usir dulu itu adalah saya sendiri.”

“Kenapa bisa terjadi demikian?” tanya wanita itu masih belum mengerti.

Maka, dengan arif suaminya menerangkan, “Sebagaimana Allah telah merubah keadaan suamimu yang dulu karena kekikiran, kebakhilan, tidak mau berbagi nikmat dengan sesama hamba Allah, kemudian Allah musnahkan hartanya dan Dia hinakan nasibnya. Maka, demikian pula Allah telah merubah keadaanku.”

“Setiap kali aku mendapat rezeki, sekalipun dari hasil meminta-minta, sebagian pasti ada yang aku berikan kepada orang yang lebih fakir daripada aku dan lebih sengsara… Yah, begitulah ganjaran sedekah itu.”

(Dari: Kisah-kisah Teladan Sepanjang Sejarah Islam; oleh: Ir. Abdul Razaq Naufal)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 17 Maret 2011 in Kisah-kisah Teladan

 

Tag: , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s