RSS

Rukun Iman

Rukun Iman


​”Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi anak-anak,” Salam Ustadz Amir.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi pak ustadz,” jawab murid-murid serempak.

“Sudah pada sarapan semua?” tanya Ustadz Amir.

“Sudah pak ustadz,” jawab murid-murid.

“Alhamdulillah. Baiklah bulan lalu kita telah mempelajari rukun Islam, masih ingat kan apa saja rukun Islam itu?” tanya Ustadz Amir.

“Masih paak,” jawab murid-murid serempak.

Alhamdulillah, coba sebutkan!” ujar Ustadz Amir.

“Rukun Islam ada lima perkara.
Yang pertama mengucapkan dua kalimat syahadat,
Yang kedua sholat lima waktu,
Yang ketiga membayar zakat,
Yang keempat berpuasa di bulan Ramadhan,
dan, yang kelima pergi haji ke Baitullah jika mampu.” jawab murid-murid.

“Alhamdulillah, anak-anak bapak memang pintar,” puji Ustad Amir. “Baiklah, hari ini kita akan mempelajari rukun iman. Ada yang tahu iman itu apa” tanya Ustadz Amir kemudian.

“Saya pak!” seorang anak perempuan yang duduk di depan mengangkat tangannya.

“Iya Anisa, kamu tahu apa iman itu?” tanya Ustadz Amir kepada Anisa.

“Iman artinya percaya pak,” jawab Anisa.

“Betul, secara bahasa iman artinya percaya. Dalam Islam iman adalah ucapan dengan lisan, dengan keyakinan hati, serta pengamalan dengan anggota badan, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan,” Ustadz Amir menjelaskan.

“Iman juga ada rukunnya. Nah siapa yang tahu rukun iman ada berapa?” tanya Ustadz Amir, “Kamu Andi, ada berapa rukun Iman.” tunjuk Ustadz Amir kepada Andi murid yang duduk paling belakang.

“Ada enam pak ustadz,” jawab Andi lantang.

“Benar! kamu Abdul sebutkan rukun Iman dari nomor satu sampai enam!” Ustadz Amir menunjuk Abdul.

“Rukun Iman, yang pertama percaya kepada Allah,
yang kedua percaya kepada Malaikat-malaikat Allah,
yang ketiga percaya kepada Kitab-Kitab Allah,
yang keempat percaya kepada Rasul-Rasul Allah,
yang kelima percaya kepada hari kiamat, dan
yang keenam percaya kepada Qadha dan Qodar atau takdir yang baik dan takdir yang buruk,” jawab Abdul lugas.

“Alhamdulillah Abdul pintar,” puji Ustadz Amir. “Nah jadi anak-anak Rukun Iman itu ada enam, yaitu:

Pertama: Iman atau percaya kepada Allah.
Iman kepada Allah berarti kita wajib percaya bahwa Allah itu ada.Dialah Yang Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan. Allah yang menciptakan seluruh alam semesta dan segala isinya. Allah yang menciptakan manusia dengan rupa yang indah, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Allah yang menghidupkan dan mematikan makhluknya. Allah pula yang menurunkan rizki.

Kedua: Iman atau percaya kepada Malaikat-Malaikat Allah.
Iman kepada Malaikat berarti kita wajib percaya dan meyakini bahwa Malaikat adalah makhluk ciptaan Allah yang diciptakan dari Nur atau cahaya. Malaikat bisa menyerupai berbagai bentuk. Malaikat bukan laki-laki atau perempuan. Tidak makan, tidak minum dan tidak tidur. Malaikat dalam menjalankan tugasnya sangat taat dan patuh pada perintah Allah swt.
Malaikat yang wajib diketahui ada 10,yaitu:

  1. Jibril : tugasnya membawa dan menyampaikan wahyu kepada para nabi dan rasul,
  2. Mikail : tugasnya menurunkan hujan,
  3. Israfil : tugasnya meniup sangkakala,
  4. Izrail : tugasnya mencabut nyawa,
  5. Mungkar : tugasnya memeriksa dan menanyakan mayit di dalam kubur,
  6. Nakir : tugasnya memeriksa dan menanyakan mayit di dalam kubur,
  7. Raqib : tugasnya mencatat amal kebaikan,
  8. Atid : tugasnya mencatat amal keburukan,
  9. Malik : tugasnya menjaga pintu neraka, dan
  10. Ridwan : tugasnya menjaga pintu syurga.

Ketiga: Iman atau percaya kepada Kitab-Kitab Allah.
Iman kepada Kitab-Kitab Allah berarti meyakini bahwa Allah menurunkan firman-Nya kepada para Nabi yang kemudian dikumpulkan dalam kitab suci, untuk disampaikan kepada umatnya. Ada empat kitab yang wajib kita ketahui, yaitu:

  1. Taurat : diturunkan kepada Nabi Musa AS.
  2. Zabur : diturunkan kepada Nabi Daud AS.
  3. Injil : diturunkan kepada Nabi Isa AS.
  4. Al-Qur’an : diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.

Dari keempat kitab suci itu hanya Al-Qur’an kitab suci umat Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW yang masih terjaga keasliannya. Sedangkan kitab suci yang lain sudah diangkat oleh Allah SWT.

Keempat: Iman atau percaya kepada Rasul-Rasul Allah.
Iman kepada Rasul-Rasul Allah berarti meyakini bahwa Allah telah mengutus para Rasul dan Nabi yang mendapatkan wahyu dan diperintahkan untuk menyampaikan kepada umatnya dan mengamalkannya. Para Nabi dan Rasul yang wajib diketahui ada 25, yaitu:

  1. Adam AS.
  2. Idris AS.
  3. Nuh AS.
  4. Hud AS.
  5. Shaleh AS.
  6. Ibrahim AS.
  7. Luth AS.
  8. Ismail AS.
  9. Ishaq AS.
  10. Yaqub AS.
  11. Yusuf AS.
  12. Ayyub AS.
  13. Syu’aib AS.
  14. Musa AS.
  15. Harun AS.
  16. Zulkifli AS.
  17. Yunus AS.
  18. Ilyas AS.
  19. Ilyasa AS.
  20. Daud AS.
  21. Sulaiman AS.
  22. Zakaria AS.
  23. Yahya AS.
  24. Isa AS.
  25. Muhammad SAW.

Kelima: Iman atau percaya kepada hari Kiamat.
Iman kepada hari Kiamat berarti meyakini bahwa hari kiamat pasti akan terjadi. Hari dimana alam semesta dihancurkan, seluruh makhluk dicabut nyawanya. Kemudian seluruh umat manusia dari yang pertama hingga yang terakhir dibangkitkan kembali dan dikumpulkan di padang Mahsyar, untuk dihisab, diperhitungkan segala amal perbuatannya yang baik dan yang buruk. Dan manusia dimintai pertanggungjawabannya atas segala perbuatannya selama di dunia.

Keenam: Iman atau percaya kepada Qadha dan Qadar.
Iman kepada Qadha dan Qadar berarti meyakini bahwa semua yang berlaku di alam ini adalah ketentuan dan ketetapan Allah SWT. Qadha dan Qadar merupakan takdir Allah yang baik maupun yang buruk. Seluruh kejadian di alam semesta ini yang baik maupun yang buruk, yang telah terjadi, sedang terjadi maupun yang akan terjadi adalah ketetapan dari Allah SWT.” Ustadz Amir menerangkan. “Paham semuanya anak-anak!”

“Paham paak,” jawab murid-murid serempak.

“Sebentar lagi waktu Juhur tiba, sampai disini dulu pengajian hari ini. Mari kita tutup dengan membaca Hamdallah, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin’.
Wabillahi taufik wal hidayah wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” tutup Ustadz Amir.

“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

Iklan
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juni 2017 in belajar, Belajar Islam

 

Tag: , ,

Berlindunglah kepada Kesabaran niscaya akan Bahagia

Berlindunglah kepada Kesabaran niscaya akan Bahagia

Dari Zaid ibn Tsabit, dia berkata, Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa menjadikan dunia sebagai keinginannya, maka Allah akan menceraiberaikan urusannya (sehingga dia menjadi bingung dibuatnya), Allah akan menjadikan kefakirannya di depan kedua matanya. Dan, tidak datang kepadanya dunia, kecuali yang telah dituliskan untuknya. Dan, barangsiapa menjadikan akhirat sebagai niatnya, maka Allah akan menghimpunkan urusannya (sehingga mudah-mudah saja semua itu dijalaninya). Allah akan memberikan kekayaan di dalam hatinya, dan akan datang kepadanya dunia karena dunia itu rendah sekali’.”

Dari Abdullah ibn Mas’ud, dia berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah saw mengatakan, ‘Barangsiapa menjadikan semua keinginannya itu menjadi satu, yakni keinginan terhadap akhirat, maka Allah akan mencukupkan keinginan dunianya. Dan, barangsiapa yang banyak sekali keinginannya terhadap permasalahan dunia, maka Allah tidak akan mempedulikannya di lembah mana dia hancur’.”

Ikutilah orang-orang yang gembira
dan berlindunglah kepada kesabaran niscaya akan bahagia.
Yang menggelapkan hari-hari dihujat tanpa alasan yang jelas
Kau baik kepada kami meski tak pernah dibalas terima kasih
dan kau cegah kami dari dosa tapi mereka tak pernah merasa berdosa.
Dalam pembuatannya, kebijaksanaan Allah adalah
sebuah kemenangan dan keteguhan hati.
Dari sempit ke luar, dan dari kesedihan ke arah kegembiraan.

(sumber: La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 30 Mei 2017 in Renungan

 

Tag: ,

Selamat datang Ramadhan

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Setahun sudah tidak update blog ini. Banyak sebetulnya yang ingin dituliskan, disampaikan. Tapi tiap kali tablet ditangan, tiba-tiba tak tahu apa yang harus dituliskan, tak tahu harus mulai darimana, harus mulai dari apa. Biasanya aku mengutip dari buku yang aku baca, tapi sudah lama juga tak sempat buka buka buku. 

Sebentar lagi bulan Ramadhan tiba, bulan istimewa bagi umat muslim, bulan penuh ampunan, bulan penuh berkah. Bulan dimana umat muslim diseluruh dunia, yang baligh dan berakal diwajibkan untuk berpuasa, agar menjadi orang-orang yang bertakwa. 

Semoga pada Ramadhan tahun ini bisa menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun lalu. Semoga Allah swt senantiasa mencurahkan Rahmat dan barokah Nya kepada kita semua. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang bertakwa. 

Maafkan sekiranya pada tulisan-tulisan yang lalu ada kata-kata yang tak pantas, maafkan segala kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Selamat menyambut Ramadhan, selamat menunaikan ibadah puasa.

Wassalmualaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Cibesut, Mei 2017

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 15 Mei 2017 in Uncategorized

 

Tag: ,

Al-Qur’an, Kitab yang Penuh Berkah

Al-Qur’an, Kitab yang Penuh Berkah

Membaca Al-Qur’an dengan perenungan, pendalaman dan tadabbur merupakan satu dari sekian banyak sebab kebahagiaan dan kelapangan hati. Allah menyifati kitab-Nya ini sebagai petunjuk, cahaya, dan penawar atas semua yang ada di dalam dada. Di samping itu, Allah juga menyifatinya sebagai rahmat.

Perhatikan firman Allah di bawah ini:

“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) di dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”
(QS. Yunus: 57)</em

“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci.”
(QS. Muhammad: 24)

“Maka, apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an? Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”
(QS. An-Nisa: 82)

“Ini adalah kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (QS. Shad: 29)

Kalangan ahlul ilmi mengatakan, “Membacanya, mengamalkannya, menjadikannya sebagai sumber hukum, dan mengambil istinbath darinya sudah merupakan berkah.”

Seorang yang salih berkata, “Aku pernah merasakan kesuntukan (yang hanya diketahui oleh Allah) dan dilanda keresahan yang membatu. Maka, segera aku mengambil mushaf Al-Qur’an, dan membacanya. Tiba-tiba saja kesuntukan itu lenyap, dan Allah menggantikannya dengan kegembiraan dan keriangan.”

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.”
(QS. Al-Isra: 9)

“Dengan kitab itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan.”
(QS. Al-Ma’idah: 16)

“Dan, demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah Kami.”
(QS. Asy-Syura: 52)

(La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 19 September 2016 in Uncategorized

 

Tag: , ,

Berhati-hatilah

image

Orang yang teguh hatinya dan menjalani kehidupan ini dengan pasti tidak akan bertindak sembrono. Ia akan selalu mengambil sikap melihat dan menimbang sebelum berbuat, agar tidak menyesal di kemudian hari. Jika hasil yang dicapai sesuai dengan keinginannya, maka ia memuji Allah dan berterimakasih kepada-Nya karena ia bisa mengeluarkan keputusan yang tepat. Dan, jika yang terjadi ternyata tidak seperti yang dikehendaki maka dia akan mengatakan, “Allah telah menakdirkan demikian, dan apa yang Allah kehendaki akan Dia lakukan,” dengan hati yang menerima dan tidak bersedih.

(La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 12 Juni 2016 in Renungan

 

Tag: ,

Rukun Islam

image

“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh,” Seperti biasa Ustadz Amir masuk sembari memberi salam pada murid-muridnya yang telah lama menunggu. Kelas yang tadinya gaduh pun menjadi hening.
“Wa’alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh,” jawab murid-murid serentak.
“Murid-murid, hari ini kita akan belajar tentang rukun Islam. Ada yang tau apa saja rukun Islam itu?” Tanya Ustadz Amir. Hampir semua murid-murid mengangkat tangannya.
“Kamu Andi, sebutkan apa saja yang termasuk rukun Islam!” Ustadz Amir menunjuk seorang murid yang duduk paling belakang.
Andi pun berdiri lalu dengan lantang menjawab, “Rukun Islam ada lima, pertama mengucapkan dua kalimat syahadat, yang kedua mengerjakan sholat lima waktu, yang ketiga membayar zakat, yang keempat puasa dibulan Ramadhan dan kelima pergi haji bila mampu” .
“Benar, jadi rukun Islam itu ada lima perkara, yang pertama mengucapkan dua kalimat syahadat. Ada yang tau bacaan syahadat? Coba kamu Nisa!” Tunjuk Ustadz Amir kepada Nisa.
“اَشْهَدُ اَنْ لَااِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًارَسُولُ اللّٰهِ,” Jawab Nisa.
“Betul. Syahadat itu ada dua, yang pertama syahadat tauhid, bacaannya ‘Asyhadu an-laa ilaaha illallah’ artinya aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan yang kedua syahadat rasul, bacaannya ‘Asyhadu anna Muhammadan rasulullah’ artinya aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Rukun Islam yang kedua adalah shalat. Shalat itu ada dua ada shalat wajib dan shalat sunnah. Nah, kamu Adul, shalat wajib itu ada berapa?” Tanya Ustad Amir.
“Ada lima waktu pak, yaitu subuh, zuhur, asar, maghrib, dan isya.” Jawab Adul lantang.
“Benar. Shalat wajib itu ada lima waktu, yaitu Subuh, Zuhur, Asar, Maghrib, dan Isya. Selain shalat wajib ada juga shalat sunnah, shalat sunnah rawatib, shalat tahajud, shalat dhuha, shalat dua hari raya,” Jelas Ustadz Amir.
“Rukun Islam yang ketiga ialah Zakat. Ada yang tau apa itu zakat?” Tanya Ustadz Amir lagi.
“Zakat fitrah pak!” Sahut Alif.
“Zakat Mal pak!” Ujar Mamat tak mau kalah.
Ustadz Amir tersenyum melihat murid-muridnya. “Baiklah. Zakat adalah jumlah harta tertentu yang wajib dikeluarkan oleh orang yang beragama Islam dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya menurut ketentuan yang telah ditetapkan oleh syariah. Sedangkan Zakat fitrah dan Zakat Mal termasuk dari macam-macam Zakat,” Ustadz Amir menjelaskan.
“Rukun Islam yang keempat adalah puasa di bulan Ramadhan. Kamu Aisyah coba jelaskan apa itu puasa?” Ustadz Amir menunjuk muridnya yang duduk bersama Nisa.
“Puasa ialah menahan lapar dan haus dari sejak subuh hingga maghrib,” jawab Aisyah lugas.
“Betul. Tetapi puasa bukan cuma menahan lapar dan haus saja, tetapi puasa juga menahan diri dari hawa nafsu ingin berbohong, berbuat jahat, menahan diri dari menggunjing kejelekan orang lain, dan juga menahan diri dari nafsu syahwat,” Jelas Ustadz Amir.
“Puasa juga ada dua macam yaitu puasa wajib yang dikerjakan dibulan Ramadan selama satu bulan, dan puasa sunnah pada hari-hari tertentu,” Kata Ustadz Amir lagi.
“Kemudian Rukun Islam yang kelima adalah pergi haji ke Baitullah bila mampu. Nah kapan waktunya untuk melaksanakan ibadah haji? Coba kamu Ihsan!” Tunjuk Ustadz Amir pada murid yang berbaju hijau.
“Bulan Zulhijjah pak ustadz,” jawab Ihsan singkat.
“Betul, pelaksanaannya di bulan Zulhijjah atau orang kita bilang bulan haji, yang puncak ibadahnya jatuh pada tanggal 10 Zulhijjah saat hari raya Idul Adha,” kata Ustadz Amir.
“Nah bapak ulangi lagi ya. Rukun Islam itu ada lima perkara, yaitu: Pertama membaca dua kalimat syahadat.
Kedua shalat lima waktu sehari semalam.
Ketiga membayar zakat.
Keempat berpuasa di bulan Ramadhan.
dan Kelima pergi haji bila mampu.
mengerti anak-anak? ”
“Mengerti pak ustadz,” jawab murid-murid serempak.
“Kalau begitu, pelajaran hari ini bapak akhiri dengan Hamdallah, ‘Alhamdulillahi robbil ‘alamiin’ Wabillahi taufik wal hidayah, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Tutup Ustadz Amir.
“Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 7 Juni 2016 in belajar, Belajar Islam

 

Tag: , ,

Orang yang Bersabar Akan Mendapatkan yang Terbaik

image

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud: Jalan keluar dan kelapangan hati itu ada dalam keyakinan dan keridhaan hati. Sedangkan keresahan dan kesedihan itu ada dalam keraguan dan ketidaksukaan.

Dia juga pernah mengatakan, “Orang yang banyak bersabar akan memperoleh yang terbaik.”

Aban bin Taghlab mengatakan, “Saya pernah mendengar seorang Arab Badui berkata: ‘Sikap yang paling baik dari seseorang akan muncul ketika ia ditimpa musibah, karena ia akan menjadikan sabar sebagai senjata menghadapi musibah tersebut dan akan memberinya inspirasi untuk selalu berharap agar musibah itu segera berakhir. Dan karena kesabarannya, ia seperti melihat jalan keluar dan pertolongan itu berada di depan matanya. Ini terjadi lantaran tawakal dan prasangka baiknya kepada Allah. Ketika orang telah sampai pada tingkatan ini, Allah pasti akan memberikan semua yang dibutuhkan, menghilangkan semua yang menyulitkan, dan mengabulkan semua permintaannya. Dan, dia selamat bersama agama, kehormatan, dan kepribadiannya.”

Al-Ashma’i meriwayatkan dari seorang Arab Badui yang mengatakan, “Takutlah terhadap keburukan yang muncul dari tempat yang baik, dan berharaplah kebaikan dari tempat yang buruk. Sebab, bisa jadi kehidupan itu ada karena adanya permintaan untuk mati, dan bisa jadi kematian itu terjadi karena adanya harapan untuk tetap hidup. Dan, tak jarang rasa nyaman itu datang dari rasa takut.”

Jika mata perhatian mengawasimu maka tidurlah,

sebab semua bencana aman semuanya.

Seorang yang bijaksana mengatakan, “Orang yang berakal akan menghibur dirinya dari hal-hal yang tak disukai karena menimpanya. Alasannya:

Pertama, ia bisa gembira karena masih ada sesuatu untuknya. Kedua, karena ia masih dapat mengharapkan jalan keluar dari apa yang menimpanya.

Sebaliknya, orang yang bodoh akan ketakutan menghadapi ujian yang menimpanya, karena:

Pertama, ia harus banyak merengek bantuan kepada orang lain. Kedua, ketakutannya akan sesuatu lebih besar dari yang akan menimpanya.

Sebagaimana disebutkan di atas, ujian itu adalah program latihan dari Allah yang ditetapkan kepada makhluk-Nya, dan latihan Allah akan membukakan hati, pendengaran, dan penglihatan.

Al-Hasan bin Sahl menggambarkan ujian itu sebagai berikut:

Dalam ujian itu ada penghapusan dosa, ada peringatan agar tidak lalai, ada tawaran untuk mendapatkan pahala dengan cara bersabar, ada saat untuk mengingat nikmat, ada harapan untuk mendapatkan ganjaran. Dalam pandangan Allah dan qadha’-Nya semuanya baik.

Orang yang lebih memilih mati hanya karena ia ingin berzikir, bertolak-belakang dengan contoh yang ada dalam ayat berikut.

“Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya dan mereka tidak turut pergi berperang: “Sekiranya mereka mengikuti kami tentulah mereka tidak terbunuh.” Katakanlah: “Tolaklah kematian itu darimu, jika kamu orang-orang yang benar.”” (QS. Ali ‘Imran: 168)

(sumber: La Tahzan, Dr. ‘Aidh al-Qarni)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 21 Mei 2016 in Renungan

 

Tag: ,