RSS

Arsip Tag: Rabiah al ‘Adawiyah

Biasa Saja

Suatu hari Rabi’ah al ‘Adawiyah melintas di depan rumah Hasan al Bashri. Kepala Hasan al Bashri menjulur keluar jendela, ia sedang menangis, dan air matanya pun jatuh menetes ke pakaian Rabi’ah. Rabi’ah melihat ke atas, awalnya ia mengira air itu adalah air hujan, kemudian, setelah menyadari bahwa air itu adalah air mata Hasan al Bashri, Rabi’ah pun menyapanya,

“Guru, tangisan ini adalah suatu pertanda kelemahan ruhani. Peliharalah air matamu, agar lautan bergelora dalam dirimu, yang di dalamnya, hati tak akan luput dari pemeliharaan Raja Yang Maha Kuasa.”

Kata-kata itu membuat Hasan al Bashri tertekan, tetapi ia tetap tenang.

Kemudian, suatu hari, Hasan al Bashri melihat Rabi’ah al ‘Adawiyah di dekat danau. Sambil menghamparkan sajadahnya di atas air, Hasan al Bashri memanggil, “Rabi’ah, kemarilah! Mari kita shalat dua rakaat di sini!”

“Hasan,” sahut Rabi’ah, “Kalau engkau ingin memamerkan kemampuan spiritualmu di pasar ini, pamerkan hal-hal yang tidak bisa ditiru manusia lain.” Rabi’ah pun melemparkan sajadahnya ke udara dan terbang di atasnya.

“Naiklah kemari, Hasan, agar orang-orang dapat melihat kita!” pekik Rabi’ah.

Hasan yang belum sampai ke stasiun (maqam) itu, diam saja.

Rabi’ah berusaha menghiburnya. “Hasan,” katanya, “Apa yang engkau lakukan juga dapat dilakukan ikan, dan apa yang kulakukan juga dapat dilakukan lalat. Keduanya bukanlah hal yang hakiki. Manusia harus mengurusi apa yang hakiki.”

(Anekdot-anekdot Rabi’ah al ‘Adawiyah, majalah Cahaya Sufi, Maret 2006)

 
Leave a comment

Posted by pada 25 Maret 2011 in Kisah-kisah Teladan

 

Kaitkata: , ,

Mengikuti Jejak Nabi

Suatu malam, Hasan al Bashri bersama dengan dua atau tiga kawan pergi mengunjungi Rabi’ah al ‘Adawiyah. Rabi’ah tidak mempunyai lentera. Mereka menginginkan penerangan. Rabi’ah meniup jarinya, dan malam itu hingga fajar, jarinya bercahaya seperti lentera, dan mereka duduk dalam naungan cahayanya.

Rabi’ah berkata, “Jika seseorang bertanya, ‘Bagaimana bisa hal ini terjadi?’ aku jawab, ‘Seperti tangannya Musa.’ Jika jawabanku dibantah, ‘Tapi Musa itu seorang nabi.’ aku katakan, ‘Siapa saja yang mengikuti jejak Nabi Saw., dapat memperoleh secuil dari kenabian, sebagaimana dikatakan oleh Nabi Saw., ‘Barangsiapa menolak manfaat sekecil apapun dari hal-hal haram, telah meraih derajat kenabian.’ Beliau Saw. juga berkata, ‘Angan-angan yang realistis adalah seperempat puluh kenabian’.”

Suatu kali, Rabi’ah al ‘Adawiyah mengirimkan tiga hal kepada Hasan al Bashri; sebatang lilin, sebuah jarum, dan sehelai rambut.

“Jadilah seperti lilin,” ujarnya, “terangilah dunia, walau dirimu terbakar karenanya. Jadilah seperti jarum, selalu bekerja telanjang (padahal ialah yang membuat pakaian). Ketika engkau telah melakukan kedua hal ini, seribu tahun akan seperti sehelai rambut bagimu.”

Dari: Anekdot-anekdot Rabi’ah al ‘Adawiyah; majalah Cahaya Sufi: edisi Maret 2006

 
Leave a comment

Posted by pada 15 Maret 2011 in Kisah-kisah Teladan

 

Kaitkata: , ,

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya.