RSS

Arsip Bulanan: Agustus 2011

Keutamaan Hadits

Salah satu keutamaan hadits adalah,

“Allah akan membuat seseorang berseri-seri, bilamana ia mendengar hadits kemudian dihafalkan dan disampaikan kepada orang lain. Mungkin terjadi seseorang pembawa ilmu menyampaikan ilmu itu kepada orang yang lebih pandai. Atau mungkin juga terjadi, seorang pembawa ilmu, ia sendiri tak pandai. Hati seorang muslim tak mungkin akan terkena suatu pengkhianatan bilamana memiliki akan tiga hal. Amal perbuatannya didasarkan atas ikhlas hanya untuk Allah semata. Mau memberi nasihat kepada orang-orang yang mempunyai kekuasaan. Dan yang terakhir ialah membiasakan diri untuk senantiasa bersatu. Karena sesungguhnya, permohonan itu selalu mengikuti jejaknya. Maka barang siapa yang kepada dunia saja dasar niatnya, Allah akan memporak-porandakannya, dan akan menjadikan kemiskinannya jelas terlihat di hadapan matanya. Sedangkan keduniaannya tak akan tiba melainkan apa yang sudah dipastikan baginya. Dan barang siapa kepada akhirat dasar niatnya, Allah akan mensukseskan usahanya, dan menjadikannya rasa kaya dalam hatinya, serta akan memberinya keduniaan. Sedangkan keduniaan itu akan mendatanginya dengan mudah.” (HR. Ibn Hbn dan Baihaqi dari Zaid bin Tsabit)

 
Leave a comment

Posted by pada 10 Agustus 2011 in Uncategorized

 

Imbalan Puasa Orang Munafik

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” seperti biasanya Ustadz Amir memberi salam sebelum memulai pengajian.

“Wa alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab murid-murid serempak. Hari ini murid-murid yang datang ke pengajian Ustadz Amir lebih banyak dari sebelumnya.

“Alhamdulillah, hari ini yang datang bertambah. Mudah-mudahan besok yang datang bisa lebih banyak lagi,” ujar Ustadz Amir tersenyum.

“Pengajian hari ini saya akan menceritakan sebuah kisah dari Hadist riwayat Muslim,” begitu Ustadz Amir membuka pengajian hari ini. Kemudian Ustadz Amir melanjutkan,

“Dari Abi Hurairah Ra. ia berkata: “Suatu hari Rasulullah Saw. bertemu dengan sejumlah sahabat beliau di Masjid Nabawi, Madinah, untuk membahas pelbagai hal. Kesempatan itu digunakan oleh salah seorang di antara mereka untuk bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah kita, pada hari kiamat kelak bisa melihat Tuhan kita?”
“Apakah kalian tidak merasa silau melihat matahari di tengah siang hari tanpa awan?” beliau balik bertanya. “Tidak, wahai Rasul,” jawab para sahabat yang hadir di situ.
“Apakah kalian tidak merasa silau melihat bulan purnama tanpa awan?” tanya beliau selanjutnya. “Tidak, wahai Rasul,” jawab mereka serempak.
“Demi Allah yang menguasai diriku,” ucap beliau,”kalian kelak tidak akan merasa silau melihat Allah Swt., seperti ketika melihat matahari atau bulan purnama.”
Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berbicara. Beberapa saat kemudian beliau melanjutkan ucapannya, “Kelak, Allah Swt. akan menemui seorang kafir, lalu Allah bertanya kepadanya, ‘Hai Fulan! Tidakkah ketika di dunia, Aku telah memuliakanmu, menjadikanmu sebagai orang yang terhormat, menundukkan kuda dan unta untukmu, juga telah Ku-berikan kesempatan kepadamu untuk menjadi pemimpin dan hidup dalam kesenangan?’, ‘Memang benar, wahai Tuhan,’ jawab orang itu.
‘Kini, Ku-biarkan engkau tanpa rahmat-Ku sebagaimana engkau telah melupakan-Ku ketika engkau hidup di dunia!’ firman Allah kepada orang itu.

Kemudian, Allah menemui seorang kafir lain, lalu bertanya kepadanya, ‘Hai Fulan! Tidakkah ketika di dunia, Aku telah memuliakanmu, memberimu jodoh, menundukkan kuda dan unta untukmu, juga telah Ku-berikan kesempatan kepadamu untuk menjadi pemimpin dan hidup dalam kesenangan?’, ‘Memang benar, wahai Tuhan,’ jawab orang itu.
‘Apakah ketika di dunia engkau percaya bahwa engkau akan bertemu dengan-Ku?’ tanya Allah selanjutnya. ‘Tidak!’ jawab orang itu.
‘Kini, Ku-biarkan engkau tanpa rahmat-Ku sebagaimana engkau telah melupakan-Ku ketika engkau hidup di dunia,’ firman Allah kepada orang itu.
Setelah itu, Allah menemui seorang munafik dam mengajukan pertanyaan seperti apa yang ditanyakan kepada orang kafir tadi. Orang munafik itu menjawab, ‘Wahai Tuhan! Aku dulu di dunia beriman kepada-Mu, kepada kitab-Mu, kepada para rasul-Mu, dan aku juga melaksanakan shalat, puasa, zakat, serta memuji-Mu sebaik mungkin.’
‘Tetaplah engkau di sini! Kami telah mendatangkan saksi Kami kemari!’ perintah Allah. ‘Siapa yang akan menjadi saksiku?’ gumam orang munafik itu.
Allah kemudian mengunci mulut orang munafik itu, kemudian memerintahkan pada paha, daging, dan tulang orang munafik itu, ‘Bicaralah!’ Maka paha, daging, dan tulang orang munafik itu menuturkan perbuatannya sehingga dia tidak bisa berkutik. Itulah orang munafik yang dimurkai Allah!” “

“Nah, itulah nasib orang munafik kelak sebagaimana hadist yang diriwayatkan oleh Muslim,” kata Ustadz Amir seusai membacakan hadist tadi.

“Sekarang saya mau tanya, apa saja tanda-tanda orang munafik? Ada yang tahu?” tanya Ustadz Amir melanjutkan. Beberapa murid mengangkat tangannya.

“Kamu Amat, coba sebutkan tanda-tanda orang munafik?” kata Ustadz Amir kepada anak yang duduk paling pinggir.

“Tanda orang munafik ada tiga, yaitu: apabila dipercaya, ia berkhianat, apabila berbicara, ia berdusta dan apabila berjanji ia mengingkari.” jawab Amat.

“Benar, jadi sifat orang munafik itu, yang pertama jika dipercaya ia berkhianat. Yang kedua jika bicara, ia berdusta. Yang ketiga, jika berjanji ia mengingkari,” kata Ustadz Amir menjelaskan.

“Jadi kalau kita tak mau disebut orang munafik, jangan ada satupun sifat tersebut pada diri kita. Kalau kita dipercaya, diamanahkan sesuatu, baik itu pekerjaan, jabatan, ataupun titipan, jaga kepercayaan itu baik-baik. Sebab sekali kamu tak dipercaya, selamanya kamu takkan dipercaya. Kemudian jadilah kamu orang yang jujur, jangan berbohong. Sekali saja kamu berbohong, maka kamu akan terus berbohong untuk menutupi kebohonganmu sebelumnya. Dan kalau kamu berjanji harus kamu tepati. Jangan berjanji kalau kamu tak dapat menepatinya.” pesan Ustadz Amir kepada murid-muridnya.

“Nah, anak-anakku sekian dulu pertemuan kita hari ini, ingat pesan Ustadz tadi, jaga diri kalian, jaga puasa kalian jangan sampai bolong. Billahi taufik wal hidayah, wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

 
Leave a comment

Posted by pada 9 Agustus 2011 in Uncategorized

 

Itulah adanya, dua hal.

Siang itu selepas sholat zuhur, seperti biasanya Ustadz Amir memberikan sedikit nasihatnya kepada murid-muridnya.

“Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” Ustadz Amir memberi salam.

“Wa alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab murid-muridnya serempak.

“Bagaimana puasa kalian hari ini? Sudah ada yang kalah belum?” tanya Ustadz Amir sambil memandangi muridnya satu persatu.

“Belum, ustadz. Alhamdullah kami belum ada yang kalah,” jawab murid-murid bersahutan.

“Alhamdulillah… Jangan sampai kalah ya…” ujar Ustadz Amir.

“Baiklah untuk pengajian hari ini saya akan menyampaikan nasihat yang terkandung dalam sebuah hadits riwayat Ibnu Majah, ” kemudian Ustadz Amir melanjutkan.
“Dari Ibnu Mas’ud Ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Bahwasanya ada dua hal, yakni : Firman dan petunjuk. Maka sebenarnya, sebaik kata-kata ialah firman Allah, dan sebaik-baik petunjuk ialah petunjuk Muhammad.
Ingatlah! Jauhilah olehmu hal-hal baru dalam agama. Karena sesungguhnya seburuk-buruk perkara ialah hal-hal yang baru dalam agama. Setiap hal yang baru dalam agama itu adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat.
Ingatlah! Janganlah kamu terlalu berpanjang-panjang umur. Ditakutkan hatimu menjadi keras.
Ingatlah sesungguhnya tiap-tiap yang datang itu dekat. Adapun yang jauh itu belum tentu datang.
Ingatlah! Sesungguhnya kecelakaan itu orang yang celaka di dalam perut ibunya, dan kebahagiaan itu pada orang yang mau mengingatkan orang lain.
Ingatlah! Sesungguhnya membunuh orang mukmin itu kufur hukumnya, sedangkan memaki itu termasuk perbuatan fasik. Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.
Ingatlah! Jauhilah olehmu dusta (bohong)! Sesungguhnya dusta (bohong) itu tidak ada baiknya, dengan sungguh-sungguh atau hanya untuk bergurauan.
Janganlah seseorang menjanjikan anaknya, tetapi tidak dipenuhinya. Karena sesungguhnya dusta (bohong) itu memberikan petunjuk ke arah kedurhakaan. Dan kedurhakaan memberikan petunjuk ke jurang neraka.
Adapun kejujuran itu memberikan petunjuk kearah kebaikan, sedangkan kebaikan memberikan petunjuk kearah surga. Kepada orang yang jujur akan dikatakan: “Kamu jujur dan benar”. Sedangkan kepada pendusta/pembohong akan dikatakan: “Kamu bohong lagi durhaka”.
Ingatlah! Sesungguhnya bilamana seseorang itu selalu berdusta, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pendusta”. Murid-murid dengan khusu’ menyimak apa yang disampaikan ustadz Amir.

“Nah, anak-anakku jadilah kalian orang yang jujur dan amanah. Dan dibulan Ramadan ini, kita berlatih untuk tidak berbohong, untuk selalu berkata jujur. Dan selanjutnya setelah Ramadan kita menjadi terbiasa berkata jujur,” nasihat ustadz Amir kepada murid-muridnya.
“Sampai sini dulu pengajian kita hari ini, Billahi Taufik wal hidayah. Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh.”

 
Leave a comment

Posted by pada 8 Agustus 2011 in Uncategorized

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 113 pengikut lainnya.